Berkunjung ke Rumah ini Serasa ke Santorini

Foto: Adhitya Himawan (Hira Imaji)

Jatuh cinta pada suasana tepi laut Santorini, membuat Lukman Auliadi dan Ida Mustazir terinspirasi untuk menjadikannya konsep rumah. “Mood sunny dan breezy dari deretan rumah putih di Santorini, juga furnitur built-in yang terbuat dari batu limestone menarik hati kami yang menyukai kesederhanaan visual dan elemen alam,” kata Lukman Auliadi dan Ida Mustazir. Dominasi warna putih dengan aksen biru yang kental, aplikasi bentuk lengkung, dan limpahan cahaya matahari di rumahnya membuat siapapun yang berada di dalamnya seakan merasakan Santorini di Jakarta.

Juan Jovita, desainer interior dari Ruang 108, membantu Lukman dan Ida mewujudkan konsep tersebut di rumahnya. “Suasana dan rasa Santorini, salah satu tempat favorit mereka, itulah yang ingin dihadirkan, sehingga ketika mereka pulang ke rumah, mereka mengalami rasa yang sama ketika sedang berlibur. Jadi terasa liburan setiap hari,” kata Juan yang menyebut rumah seluas 250 meter persegi di atas lahan 108 meter persegi tersebut Rumah Putih. “Lokasi rumah yang menghadap sungai dan arah Timur membuat rumah kami banyak mendapat cahaya matahari dan angin yang bebas, menjadi kebetulan untuk mendukung mood sunny dan breezy yang kami inginkan,” kata Ida Mustazir.

Fasad terlihat cerah karena kombinasi warna fuschia dari bunga di taman, putihnya dinding, dan biru di pintu utama dan kusen jendela. Begitu memasuki pintu utama, ruang makan ada di sisi kiri dan ruang keluarga di sisi kanan. “Ruang makan sekaligus menjadi ruang tamu, karena keluarga dan teman yang datang dijamu makan oleh tuan rumah yang hobi memasak,” kata Juan Jovita. Susunan mosaik biru menghiasi ceruk di dinding, menarik perhatian di ruang ini.

Rumah Putih Santorini

Di ruang keluarga, rak teve dan bangku didesain built-in dari beton. “Permukaan furnitur built-in sengaja dibuat tidak rata agar kesan natural dan sederhana terasa,” kata Juan Jovita. “Kami ingin menepati konsep blending with the environment, sekaligus memudahkan bebersih,” kata Ida Mustazir yang juga menerapkan konsep satu barang satu fungsi dan metode Montessori (merotasi mainan anak) untuk memudahkan pekerjaan rumah. “Karena hunian bukan hanya tempat meletakkan tubuh dan beristirahat setelah berkegiatan di luar. Penting untuk merasa nyaman saat mengurusnya karena terasa lebih puas saat kami bisa menyentuh setiap sudut rumah dn menikmatinya. Karena itu pula, kami tidak menggunakan bantuan asisten rumah tangga,” kata Ida Mustazir.

Rumah Putih Santorini

Seluruh lantai ruang memakai material berwarna batu/semen sehingga dapat meleburkan dinginnya warna putih yang mendominasi. Kecuali dapur, Juan memberi suasana berbeda melalui permainan warna dan corak pada lantai. Furnitur lepas dan dekorasi sengaja dipilih bermaterial kayu dan rotan. “Kami ingin mendekorasi rumah sesederhana mungkin dengan barang buatan lokal dan handmade yang dibeli langsung di Kemang dan IKEA, maupun online di Fabelio dan Nagarey,” kata Ida.

Rumah Putih Santorini

Tangga yang mengadopsi gaya Santorini menuju lantai atas menjadi focal point rumah. Di lantai ini, kamar tidur utama, kamar tidur buah hati mereka, Saira Dayu Sahada, dan lounge, berada. Lounge yang menghadap teras, berada di antara kamar tidur utama dan kamar anak, ruang favorit keluarga kecil ini. “Di lounge, suasana ideal Santorini yang cerah dan berangin, paling terasa. Di sini, kami bermain, menonton televisi, dan membaca buku bersama,” kata Ida Mustazir. Jika Santorini memiliki pemandangan Laut Aegean, Rumah Putih memiliki pemandangan sungai yang bisa dinikmati dari kamar tidur, lounge, dan balkon.

Tags:
Leave a Comment