Kapan Sebaiknya Kamu Punya Rumah ?

Foto: Dok. Contemporist.com

Kamu tahu nggak? Salah satu konten yang paling popular di internet adalah tulisan atau image yang membahas tentang jodoh dan pernikahan? Ya! Konten tentang percintaan, kegelisahan mereka yang tak kunjung menemui jodoh, putus cinta, dan sejenisnya sangat mudah menyebar di dunia maya. Bukannya tanpa alasan, mereka yang mengunsumsi konten seperti itu memang adalah yang mendominasi jagad dunia maya saat ini.

Generasi milenial adalah satu di antara jutaan yang mengaku demikian, adalah mereka yang lahir di rentang tahun 1981 – 1994. Jumlahnya tidak main-main, hampir setengah dari penduduk jagad dunia maya. Ini yang men-generate konten tersebut mudah viral. Karena isu dan kegelisahan yang dirasakan pun seragam.

Konten tentang pernikahan ini kian marak dan menjamur secara tidak langsung turut menyuburkan bisnis yang berkorelasi dengannya. Lihatlah betapa Bridestory selalu sukses menggelar pameran. Lihatlah betapa para key opinion leader menyesaki linimasa dengan tren pernikahan masa kini. Kultur kebarat-baratan yang serba konsumtif dan lain sebagainya.

Baca : Teknologi Digital pada Sektor Properti

Padahal, jika mau sedikit berpikir lebih panjang, hal yang lebih urgent setelah menikah adalah tentang pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Di mana kelak akan membina rumah tangga, bagaimana  cekatan menyiapkan masa depan bersama, dan merencanakan hal-hal lainnya. Ya, kamu yang tengah membaca tulisan ini sudah saatnya mulai berpikir tentang rumah atau hunian idaman.

Sebuah survei menunjukkan fakta bahwa pendapatan rata-rata milenial di Jakarta atau kota-kota besar berada dikisaran angka Rp6 juta sampai Rp7 jutaan per bulan. Ini bisa jadi merupakan sebuah prestasi, bagi sebagian yang baru merasakan dinamisnya dunia kerja, serunya menjejaki karir, dan menjadi seorang profesional.

Namun, pada saat yang sama, ini merupakan delusi yang hampa-asa. Mengapa demikian? Karena kebanyakan angkatan kerja tersebut, belum mampu menempatkan masa depan secara proporsional. Mereka yang lazim kita sebut sebagai milenial, mengutamakan kehidupan sosial dan gaya hidup sebagai hal yang begitu penting. Lebih penting dibanding usaha untuk memiliki hunian sendiri.

Baca : Punya Rumah di Jakarta Harus Bisa Cicil Rp8 juta Setiap Bulan

Ini adalah ironi. Karena mau tidak mau, jika paradigma itu terus mengakar, akan makin sedikit para pekerja di kota-kota besar yang mampu memiliki rumah sendiri. Seperti studi yang dirilis oleh URBANtown by PT PP Urban, tentang status kepemilikan rumah atau hunian di Jakarta, menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari jumlah hunian di Jakarta berstatus sewa atau sejenisnya.

Ada lebih dari 56 persen hunian di Jakarta yang statusnya bukan dimiliki penghuninya. Variasinya beragam, paling banyak didominasi status sewa/kos/kontrak. Sisanya ada yang berstatus rumah dinas, rumah keluarga/rumah bersama dan lain sebagainya. Fakta ini sangat mungkin untuk berubah beberapa tahun mendatang. Angka kepemilikan rumah akan semakin menurun seiring dengan kenaikan harga properti yang tinggi.

Baca : Ini Alasan Mengapa Punya Rumah di Jakarta Hanya Mimpi

Kanaikan harga hunian yang tidak mampu diimbangi dengan kenaikan pendapatan warganya. Kalau kita berani ambil asumsi harga hunian paling terjangkau di Jakarta adalah Rp350 juta, dengan rata-rata gaji para first worker adalah Rp7 juta, ini sama saja dengan memupuk angan dan mimpi untuk memiliki hunian sendiri di Ibukota.

Sudah saatnya menghitung dan mengukur kemampuan diri untuk merencanakan tempat tinggal bersama dia. Jadi, kapan sebaiknya kamu punya rumah sendiri? Jawabnya adalah sekarang!

 

Naskah: Fauzan Fadli

Tags:
Leave a Comment