Willis Kusuma, Mengekspresikan Diri di Tanah Air

  • Home
  • Tokoh
  • Willis Kusuma, Mengekspresikan Diri di Tanah Air

“…sepertinya menarik jika pada saat negara sedang tumbuh berkembang, kita berkembang bersamanya. Itu kesempatan yang langka.”

Bila tidak ada kerusuhan Mei di tahun 98, mungkin pria ini sudah kembali dan berkarir sebagai arsitek di Jakarta. Tapi tampaknya ia lebih berjodoh dengan arsitek kelas dunia, Richard Meier, daripada mengalami krisis moneter di tanah air. Ia kembali ke Jakarta ketika keadaan sudah lebih baik, untuk mengetahui seberapa jauh dirinya telah berkembang sebagai arsitek.

Bagaimana masa kuliah Anda?

Saya kuliah S1 di Jakarta, di UNTAR (Universitas Tarumanegara). Lalu lanjut S2 di Florida Amerika Serikat.

Mengapa memilih Amerika?

Dulu saya sempat dibimbing oleh dosen yang baru pulang dari Amerika. Dari beliau tumbuh rasa ingin tahu yang kuat tentang banyak hal dalam arsitektur. Ketika saya ditanya mengapa desain saya begini, mengapa begitu, saya tidak bisa menjawab. Atau saya tidak menemukan jawaban yang memadai. Menjelang akhir kuliah, rasa penasaran itu semakin kuat. Saya merasa perlu mencari jawaban yang memuaskan. Tadinya saya ingin melanjutkan kuliah di California karena ada Morphosis-nya Thom Mayne yang waktu itu sedang naik daun. Tapi dapatnya malah di Florida yang belajarnya lebih ke modernisme awal seperti Le Corbusier, Louis Kahn, atau Frank Lloyd Wright. Sempat kecewa, karena saya mengharapkan yang lebih ‘segar’ seperti post modern atau dekonstruksi. Tapi belakangan saya bisa memantapkan diri dengan Corbusier dan Kahn. Justru post modern dan dekonstruksi itu terasa seperti sebuah tren. Saya merasa beruntung mendapatkan sesuatu yang lebih esensial. Sesuatu yang lebih mendasar.

Apakah bekerja di Richard Meier termasuk target Anda setamat kuliah?

Tidak direncanakan sebelumnya. Semua bergulir saja. Selepas kuliah saya tidak bisa kembali ke Jakarta. Waktu saya wisuda bertepatan dengan kerusuhan Mei 98. Di sini ada jatah magang satu tahun, baru setelah itu bisa apply visa untuk kerja. Lalu saya kerja di Santa barbara. Kurang betah sebenarnya di sana. Saya main ke Los Angeles. Di kota inilah saya menemukan semangat dan lingkungan yang pas. Kebetulan saat itu sedang ada pameran arsitek-arsitek muda yang bagus-bagus, seperti AMI (Arsitek Muda Indonesia) kalau di Indonesia. Saya harus pindah ke kota ini. Selanjutnya saya diterima kerja di salah satu biro arsitek muda. Mirip seperti biro saya sekarang ini. Eksperimental, banyak mencoba hal baru. Dari sana barulah saya pindah ke Richard Meier.

Apa yang Anda peroleh dari bekerja di Richard Meier?

Kalau di Richard Meier itu sudah mapan. Kita belajar sesuatu yang standarnya sudah teruji sejak tahun 60-an Mereka sudah melewati waktu untuk mengevaluasi hasil kerjanya. Mana yang dipakai, mana yang gagal dan ditinggalkan. Kita mempelajari apa yang sudah mereka pelajari. Setiap orang di sini punya spirit yang sama. Itu yang terkadang susah dicari. Sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi arsitek muda seperti saya. Di sana saya bertemu senior-senior yang pintar-pintar, setiap hari dapat ilmu.

Apa dulu Anda tahu kalau di Indonesia banyak arsitek yang langsung mendirikan bironya sendiri selepas kuliah?

Itu juga menjadi diskusi di antara saya dan teman-teman arsitek. Misalnya belajar bela diri, kita harus belajar kuda-kuda dulu. Sebagai anak muda kita musti sabar, belajar dasarnya dulu. Kalau belajar sendiri dari pengalaman, ketika salah tidak ada yang memberi tahu. Di Meier misalnya, kita belajar dengan cara yang benar, terarah, mana yang boleh dan tidak boleh. Mendapat bimbingan langsung dari orang yang ahli di bidangnya. Bukan dari kontraktor atau otodidak. Itu menurut saya. Tapi mungkin juga karena di Indonesia peraturan tentang sertifikasi profesi belum dijalankan. Jadi klien bisa memilih arsitek dengan pengalaman puluhan tahun atau fresh graduate. Ada teman saya yang bilang kalau di Jakarta itu semua mendapat market.

‘Semua mendapat market’. Apa itu juga alasan Anda pulang ke Jakarta meninggalkan (pekerjaan di) Meier?

Bisa dibilang begitu. Ada potensi yang bisa digali lebih jauh di Jakarta. Waktu saya kembali di awal tahun 2000-an itu ekonomi tidak terlalu jelek. Ada kesempatan buat kita yang merasa senang karena bisa mengekspresikan diri. Dan sepertinya menarik jika pada saat negara sedang tumbuh berkembang, kita berkembang bersamanya. Itu opportunity yang langka.

Saat itu langsung mendirikan Willis Kusuma Architect?

Iya benar. Sekitar 2004 kita mulai. Sendirian dulu, modal pakai satu laptop saja.

Kenapa saat itu Anda sudah merasa cukup bekerja di tempat orang lain, lalu memutuskan membuat biro sendiri? Apa patokannya?

Saya ingin menguji diri saya sendiri, setelah ‘berguru’ 8 tahun di Amerika. Misalnya saya murid di Shaolin. Setiap hari latihan, lawannya teman-teman sendiri. Kita tidak akan tahu kemampuan kita sampai di mana. Lalu saya ‘turun gunung’, ingin tahu kemampuan diri, tanpa embel-embel kantor terdahulu. Bukan berarti saya berhenti belajar. Ilmu tidak ada batasnya. Tapi ada poin-poin yang diprioritaskan dalam hidup. Dan saya sudah dapat poin-poin saya.

Lepas dari bayang-bayang kantor terdahulu, jadi apa karakter biro Anda ini?

Prinsip kami di sini adalah well ballance. Setiap karya arsitektur punya kekuatannya sendiri-sendiri. Prioritas desainnya ke mana. Misalnya bangunan yang bentuknya spektakuler tapi mengorbankan kenyamanan, atau sebaliknya. Nah, kami mencoba untuk selalu menyeimbangkan semua hal. Semua aspek dalam karya kami harus seimbang. Kami juga, secara mental, terbiasa melakukan hal-hal yang detail setiap hari. Eksperimennya lebih ke detail dan bentuk. Kami senang menghabiskan waktu khusus untuk itu. Bangunan harus bisa memberikan pengalaman baru untuk orang yang melihatnya.

Lalu market seperti apa yang Anda dapat?

Masyarakat yang lebih teredukasi mengenai desain. Walau belum bisa mengalahkan pengetahuan mereka tentang bintang film, mereka tau nama satu-dua arsitek. Kecepatan informasi melalui media digital juga memudahkan karya kami bisa dilihat, bahkan oleh orang awam sekalipun. Jadi klien more informed mengenai dunia desain.

Berarti klien sekarang lebih kritis?

Ya..ya, benar. Kami senang dan lebih concern dengan kritik terhadap karya kami. Misalnya yang mereka lihat di instagram atau sosial media lain. Kami merasa kami adalah tim yang kritis. Tapi klien yang datang bisa lebih kritis lagi. Mereka orang-orang dengan standar yang tinggi. Akan selalu menarik ketika klien yang kritis bertemu tim arsitek yang kritis. Tentu artinya kita akan lebih lelah. Dan terkadang jadi kurang terasa menarik ketika kami mulai lelah. Lihat naskah lengkapnya di sini.

 

Naskah: Donny Amrin

Tags:
Leave a Comment