Identik dengan Fengshui, Ini Furnitur dan Simbol yang Digunakan Saat Imlek

  • Home
  • Inspirasi
  • Identik dengan Fengshui, Ini Furnitur dan Simbol yang Digunakan Saat Imlek

Foto: Dhgate/Wall26/Pauldegrande/Pinterest.

Athome.id – Bagi sebagian masyarakat yang memercayai soal fengshui pasti terkait dengan budaya Tionghoa yang memang sudah mengakar di Indonesia. Terutama bagi mereka yang memiliki keyakinan dan darah keturuan Tionghoa. Tidak hanya dari kesenian, pengaruhnya juga pada tatanan kehidupan seperti desain furnitur, keramik, guci, dan lainnya. Sangat terasa pada hari raya Imlek yang segera berlangsung di bulan Februari tahun ini.

Desain furnitur yang memiliki motif dan ukiran khas China, yaitu delapan dewa (eight god), 9 ikan, burung merak (peacock), dan four seasons yang diwakili dengan gambar burung dan bunga (bird and flowers). Ukiran naga (dragon), singa (chi lin), longevity design, dan key design. Masing-masing motif dan ukiran memiliki arti. Misalnya four seasons menggambarkan empat musim yang ditunjukkan dengan bunga mei hua dan burung. Ikan yang harus berjumlah sembilan, dipercaya akan membawa rejeki dan keberuntungan.

Naga, lambang kekuasaan. Singa (chi lin) sebagai penjaga rumah, biasanya sering digambarkan membawa bola lambang bola dunia. Jadi si singa memegang dan menjaga dunia. Longevity design, berbentuk perputaran yang tidak ada putusnya, ini menggambarkan umur panjang dan kehidupan yang berjalan baik tanpa rintangan. Demikian juga halnya key design, dengan garis yang tak putus akan memberikan umur panjang bagi pemiliknya.

Motif-motif tersebut disusun dari kulit-kulit kerang (mother of pearl) yang ditanam. Prosesnya, furnitur yang sudah jadi diukir menurut pola yang akan digambar. Kulit kerang pun dibentuk sesuai pola memakai gergaji halus (seperti rambut). Lalu ditempel satu persatu pada furnitur yang akan dihias. Kemudian digosok agar masuk ke dalam, amplas lagi supaya benar-benar tertanam sehingga tidak akan lepas dan terasa rata jika diraba dengan tangan. Setelah itu di-finishing.

Bahan baku yang digunakan, kayu rosewood. Berat dan berwarna kemerahan. Sebenarnya pada akhir jaman dinasti Qing, kayu ini sudah punah, tidak ditemukan lagi di China. Kayu rosewood terdapat di Asia Tenggara di antaranya Thailand, Laos, dan Vietnam. Beda dengan furnitur antik China yang masih berbahan kayu asli China seperti kayu hitam (suan chi), huang hua li, dan rosewood (hua li mu). Kini menjadi barang antik dan dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Finishing furnitur China menggunakan lacquer dan tung oil. Kelebihannya, tidak akan menimbulkan bercak dan noda jika terkena cairan panas, lebih licin, mengkilap dan tahan lama. Juga lebih natural, tekstur dan warna kayu rosewood yang kemerahan terlihat jelas. Selain meja dan kursi, ada juga lemari pajangan, lemari TV, partisi dan masih banyak lagi.

Furnitur China wood based, bantalan pada kursi itu tambahan karena orang China tidak menyukai bantalan. Mereka menganggap, kayu memiliki energi dan akan tersalurkan saat mereka mendudukinya. Jika memakai bantalan, bahan pelapisnya sutera, biasanya berwarna merah, lambang kesuksesan dan kemakmuran. Perawatan furnitur cukup mudah karena kayu rosewood terkenal kuat dan tahan lama. Cukup bersihkan dengan lap lembab, bulu ayam, atau pembersih furnitur yang banyak dijual di pasaran.

 

Naskah: Naomi Sinaga/ Ega Arini

 

Tags:
Leave a Comment