BELAJAR DARI TRIO PEMENANG NOBEL EKONOMI 2019

Athome.id – The Royal Swedish Academy of Sciences pada 14 Oktober 2019 menganugerahi hadiah Nobel Ekonomi 2019 untuk Abhijit Banerjee (58) dan Esther Duflo (47), keduanya adalah profesor di Massachusetts Institute of Technology, serta Michael Kremer (55) seorang profesor di Harvard University, atas pendekatan eksperimental mereka tentang kemiskinan global, kualitas pendidikan, dan perawatan kesehatan.

Banerjee, Duflo, dan Kremer mempromosikan metode kontemporer tentang model terbaik yang efisien untuk mengatasi problema kemanusiaan yang paling mendesak yaitu pengurangan kemiskinan global, menjadi hal yang lebih sederhana dan mudah dikelola, melalui eksperimen lapangan untuk menemukan kausalitas dalam bidang ekonomi pembangunan.

Pendekatan Eksperimental

Dalam dwi dasawarsa ini, standar kehidupan penduduk dunia telah meningkat hampir di semua area. Kesejahteraan ekonomi yang dihitung dengan produk domestik bruto per kapita naik seratus persen di negara-negara termiskin antara tahun 1995 dan 2018, kematian anak telah tereduksi 50 persen, dan jumlah anak yang mengenyam pendidikan naik dari 56 menjadi 80 persen.

Di sisi lain, ternyata lebih dari 700 juta orang masih hidup dengan pendapatan yang sangat cekak. Setiap tahunnya, lima juta anak meninggal yang seringkali disebabkan penyakit yang sedianya bisa ditangkal atau dipulihkan dengan perawatan yang relatif sederhana, serta separuh dari anak-anak di dunia masih hidup tanpa keahlian membaca dan menghitung tingkat dasar.

Kesenjangan produktivitas terjadi tidak hanya di antara negara kaya dan miskin, tetapi juga di dalam negara miskin, karena sebagian individu sudah memanfaatkan teknologi moden, sementara yang lain menggunakan alat yang usang. Sehingga produktivitas rata-rata yang minim mayoritas lantaran beberapa individu dan perusahaan yang gagap teknologi.

secondlineblog.org

Pendidikan

Medio 1990-an, Kremer dan koleganya meneliti ke pedesaan barat Kenya, melakukan sejumlah penyelidikan lapangan bermitra dengan organisasi non-pemerintah lokal (LSM). Ihwal inti di banyak sekolah negeri miskin adalah kurikulum dan pengajaran tidak sesuai dengan kebutuhan anak didik. Siswa tampaknya tidak belajar apa-apa dari kelas-kelas tambahan di sekolah, juga anggaran untuk buku pelajaran rupanya tidak meningkatkan proses pembelajaran. Dalam konteks India, banyak anak yang kelihatannya tidak belajar. Di kota Vadodara, kurang dari seperlima siswa kelas tiga dapat dengan benar menjawab pertanyaan-pertanyaan tes kurikulum matematika kelas satu. Terlihat jelas bahwa upaya untuk menyekolahkan anak lebih banyak harus dilengkapi dengan reformasi peningkatan mutu pendidikan.

Eksperimen lapangan yang dilakukan yaitu menganalisis kurangnya insentif dan akuntabilitas yang jelas bagi para guru, tercermin pada tingkat absensi yang tinggi. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi guru adalah dengan mempekerjakan dalam kontrak jangka pendek yang dapat diperpanjang jika mereka memiliki hasil yang baik. Hasilnya, murid yang diajari oleh guru dalam kontrak jangka pendek memiliki hasil tes yang jauh lebih baik. Reformasi pendidikan yang menyesuaikan pengajaran dengan kebutuhan murid sangat penting, disertai dengan memperbaiki tata kelola sekolah dan menuntut tanggung jawab dari para pendidik merupakan langkah yang tepat dan bijak.

Kesehatan dan Rasionalitas

Hasil eksperimen menemukan bawah tiga perempat orang tua akan memberi anak-anak mereka obat ketika obat itu gratis. Didapati ternyata orang miskin sangat peka terhadap harga dalam investasi perawatan kesehatan yang sifatnya preventif. Ketersediaan layanan yang lebih baik dan insentif yang lebih kuat menaikkan tingkat vaksinasi. Klinik vaksinasi yang berkeliling mendatangi rumah warga dapat memperbaiki soal ini, tahap vaksinasi naik tiga kali lipat di desa-desa tersebut, serta meningkat menjadi 39 persen bila mereka menerima sekantong kacang lunak sebagai bonus ketika memvaksinasi anak-anak mereka. Penyebab lain rendahnya fase vaksinasi di banyak negara miskin adalah bahwa orang tidak acap sepenuhnya rasional, salah satunya karena enggan memanfaatkan teknologi mutakhir.

Dalam percobaan lapangan lainnya, diselidiki sebab petani kecil, khususnya di sub-Sahara Afrika, tidak mengadopsi inovasi yang relatif sederhana, seperti pupuk buatan, meskipun akan memberikan manfaat besar bagi mereka, adalah karena sifat bias saat ini (kecenderungan untuk menerima hadiah yang lebih kecil daripada menunggu yang lebih besar di masa depan), sehingga mereka cenderung menunda keputusan investasi. Hasil penelitian menemukan bahwa subsidi sementara memiliki efek yang jauh lebih besar pada penggunaan pupuk daripada subsidi permanen.

psmag.com

Disertasi Duflo

Penelitian Duflo dilakukan dengan berfokus pada masalah ekonomi mikro di negara-negara berkembang, termasuk perilaku rumah tangga, pendidikan, akses keuangan, kesehatan, dan evaluasi kebijakan. Disertasi Duflo dalam bidang ekonomi pembangunan empiris pada tahun 1999, mengevaluasi program pembangunan sekolah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia antara tahun 1973 dan 1978 terhadap pendidikan dan upah dengan menggabungkan perbedaan antar daerah dalam jumlah sekolah yang dibangun. Perkiraan menunjukkan bahwa pembangunan sekolah dasar menyebabkan peningkatan substansial dalam pendidikan dan pendapatan, dengan estimasi hasil pendidikan mulai dari 6,4% hingga 9,1%.

Selanjutnya, Duflo mempelajari dampak sumber daya rumah tangga terhadap gizi anak di Afrika Selatan. Pada awal 1990-an, manfaat dan cakupan program pensiun sosial secara dramatis diperluas. Sekitar sepertiga dari anak-anak di bawah usia 5 tahun yang tinggal bersama orang tua, hasil menunjukkan bahwa pensiun yang diterima oleh wanita memiliki dampak besar dan signifikan pada status antropometrik anak perempuan, dan efek yang lebih kecil dan tidak signifikan pada anak laki-laki.

Duflo juga meneliti peran reputasi dalam menentukan hasil kontrak, menggunakan data 230 proyek yang dilakukan oleh 125 perusahaan perangkat lunak. Kontrak ex ante serta hasil setelah renegosiasi ex post bervariasi dengan karakteristik perusahaan yang mungkin terkait dengan reputasi, dengan hasil yang mengusulkan model industri, di mana reputasi menentukan hasil kontrak.

Simpulan

Banerjee dan Duflo dalam buku Poor Economics pada tahun 2011, setelah meneliti selama 1,5 dekade, menjabarkan solusi murni berbasis pasar untuk kemiskinan global, serta mencoba memahami bagaimana orang miskin benar-benar berpikir dan membuat keputusan tentang pendidikan, perawatan kesehatan, tabungan, kewirausahaan, dan lainnya. Mereka menganjurkan untuk benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang miskin, yang kerapkali jawabannya mengejutkan dan kontra-intuitif, tetapi sangat masuk akal tatkala keadaan dipahami.

Studi yang dilakukan oleh para pemenang Nobel Ekonomi 2019 ini memiliki dampak spontan pada kebijakan-kebijakan dan juga memiliki pengaruh tidak langsung via perubahan cara kerja badan publik dan organisasi swasta. Perangkap universal ketidaktahuan, ideologi, dan kelambanan seringkali menghambat kebijakan dan lembaga, tetapi hal tersebut tentu dapat dihindari. Simpulannya adalah bahwa semua manusia adalah bagian dari solusi, dan transformasi kecil yang dilakukan dapat memiliki efek revolusi yang besar untuk mengatasi kemiskinan global.

 

David Cornelis Mokalu

Catatan Mahasiswa Doktor

Sekolah Bisnis IPB

 

 

Tags:
Leave a Comment