Dedi Kusnadi, Berkarya dengan Sederhana

  • Home
  • Tokoh
  • Dedi Kusnadi, Berkarya dengan Sederhana

 Foto: Dok. NAD

Dunia gambar sangat dekat dengan Dedi Kusnadi sejak di bangku sekolah dasar. Hal ini dipengaruhi tempat tinggalnya yang berada di salah satu kawasan heritage kota Bandung. Setiap saat, Dedi kecil hingga remaja melewati dan berkeliling kota ini menikmati bangunan. Puncaknya saat memasuki akhir masa SMA, ketertarikannya pada desain arsitektur kian kuat. Ini pula yang mengantarkannya memilih jurusan arsitektur di Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung.

Di latarbelakangi ayah yang seorang sastrawan dan ilmuwan Biologi, Paman dan Bibi seorang dokter, Dedi sempat berada dipersimpangan jalan. Dimana harus menyenangkan orangtua atau harus memilih panggilan hati. “Ayah meminta untuk kuliah di Kedokteran dan saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (UNPAD). Namun disaat yang sama, jurusan Arsitektur juga sudah diterima di Unpar. Butuh waktu yang lama untuk merenungkan ini, sampai satu momen Ayah saya memberi kebebasan dalam mengambil keputusan,” ujar Dedi terkenang.

Sampailah Dedi di jurusan Arsitektur, kuliah perdana menjadi hari penting dan bersejarah, karena ia begitu meyakini akan pilihannya yang tepat. Di semester awal kemampuan gambarnya kian terasah dan ingin menggalinya lebih dalam lagi. Dedi yang berasal dari keluarga sederhana, memutuskan untuk magang atau kerja sambilan di sela-sela kuliahnya. Maka selama tujuh tahun, Dedi baru bisa menyelesaikan studinya.

Dalam kurun waktu itulah Dedi membantu senior yang mempunyai konsultan hingga lulus pun tetap bekerja di tempat yang sama. Cukup menimba ilmu di tempat senior, Dedi memutuskan mencari pekerjaan di Jakarta. Hadiprana menjadi ‘kampus’ berikutnya selama 12 tahun (1990-2002). Di konsultan ini kemampuannya kian terasah dan lebih ‘dewasa’. Ada banyak proyek rumah, mal, hotel hingga perkantoran yang ditanganinya. “Saya matang saat di Hadiprana, pengalaman yang luar biasa dan ilmu yang banyak. Lalu saya merasa tertantang untuk melakukan hal lain dan ‘menamatkan’ studi di konsultan ini,” kata Dedi.

Di bawah bendera Kusnadi Architec, Dedi mengerjakan berbagai proyek properti. Ada banyak rintangan dan tantangan, hingga satu waktu Dedi bergabung dengan kawannya mendirikan konsultan. Itu pun tidak berjalan lama sampai akhirnya Dedi bertemu kembali satu klien di Hadiprana. “Sendiri, lalu bergabung dengan teman, sendiri lagi, lalu ketemu Pak Arif, mantan klien di Hadiprana mendapatkan satu proyek rumah. Dari proyek inilah akhirnya konsultan arsitek NAD Studio lahir,” jelas Dedi. “Obrolon yang tadinya mendesain proyek rumah yang ditujukan untuk keluarga besar Pak Arif. Bergeser menjadi share project, karena beliau memang bergerak dibidang kontraktor. Cukup lama berkolaborasi dalam mengerjakan berbagai proyek, sampai pada keputusan untuk membuat kerjasama yang lebih baik. Lahirlah NAD pada 2015 dan rumah yang saya kerjakan menjadi kantornya,” tambah Dedi.

NAD (Nawaetu Abdala Dhakara) lahir dari niat untuk bersama-sama maju dalam menggapai kesuksesan. Demikian dalam mendesain rumah atau bangunan, Dedi berharap semua karyanya diapresiasi. Karena kebahagiaan terbesar seorang arsitek adalah saat karya tersebut mendapat apresiasi yang tinggi dari pemilik. Kepuasan klien menjadi tujuan utama Dedi dalam mendesain, karena nantinya mereka yang akan menempati dalam waktu yang lama dan harus mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dari rumah sebelumnya.

Berkarya dengan jujur dan sederhana, menjadi kesuksesan Dedi mendapat apresiasi klien. Jujur untuk mengatakan apabila keinginan-keinginan klien kurang tepat secara arsitektur, menyarankan dengan sebaik-baiknya, memuliakan semua keinginan seluruh anggota keluarga dan memulainya dengan desain yang sederhana. “Dalam desain, selain memenuhi keinginan klien, idealisme arsitek juga harus ditanam, sehingga lahir karya yang baik. Namun tidak mengesampingkan unsur lokal dimana rumah itu berada. Misal karena berada di iklim tropis, maka saya selalu menyarankan desain atapnya seperti apa, bukaan sirkulasinya, layout ruang, dan lainnya. Saya tidak mematok diri pada langgam desain tertentu, berkarya harus dengan baik, jujur, sederhana, dan fungsinya benar. Badannya dulu saya buat enak dan nyaman, kalau tampilan bisa saya ikuti,” tegas Dedi yang kerap memperlakukan kliennya seperti keluarga.

Menghadapi karakter klien yang berbeda, Dedi melakukan pendekatan kekeluargaan. Artinya obrolon harus dimulai dari pemilik dan seluruh anggota keluarga. Terutama mengenai kegiatan sehari-hari, kebutuhannya apa, keinginannya apa, hobi, kebiasaan anak (terutama yang sudah beranjak remaja), kalau pulang lewat mana jam berapa, hingga urusan siapa yang masak. Dari situlah Dedi megolahnya dalam bentuk desain. “Setiap klien memiliki cara pandang berbeda terhadap rumah. Untuk itu, desain harus sesuai dengan kebiasaan pemilk dan bisa mewadahi semua kebutuhan anggota keluarga, serta merasa nyaman berada di dalamnya,” terang Dedi. “Untuk menyelesaikan satu desain Dedi membutuhkan satu hingga 25 kali pertemuan untuk mendapat desain yang ideal. Tergantung juga pada karakter klien,” katanya.

 

Tags:
Leave a Comment