Athome.id – Semangat R.A. Kartini tak pernah benar-benar padam. Bagi Rezky Yulyanti Isa (36), semangat itu menjelma menjadi keberanian untuk bermimpi besar, bahkan di tengah keraguan dan stereotip yang membayangi.

Berbekal tekad, Rezky mengambil langkah berani pada 2013 dengan melamar posisi di bidang penjualan (sales), sektor yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki. Rasa takut sempat hadir, namun tak cukup kuat untuk menghentikannya.

Menantang Stigma dari Lapangan

Awal karier Rezky bukanlah perjalanan yang mudah. Ia ditempatkan di Sulawesi sebagai satu-satunya perempuan di tim penjualan. Tugasnya tak ringan—turun langsung ke pasar, menawarkan produk, mengangkat barang, hingga menumpang truk bersama sopir dan tim lapangan lainnya.

Tak sedikit yang meragukannya. Bahkan, ada yang memprediksi ia hanya akan bertahan lima bulan. Namun alih-alih mundur, komentar tersebut justru menjadi bahan bakar semangatnya.

Rezky terus membuktikan diri. Ketekunan dan konsistensinya berbuah manis. Kini, ia menjabat sebagai Head of Region di PT Heinz ABC Indonesia (Kraft Heinz Indonesia) memimpin wilayah strategis Jabodetabek dan Jawa Barat. Perannya di perusahaan dengan merek ABC  untuk produk kecap, sambal, sirop, sarden, dan minuman dalam kemasan ini, mencakup penyusunan strategi penjualan hingga memastikan target perusahaan tercapai.

Di balik tanggung jawab besar itu, Rezky juga menjalani peran sebagai ibu dari bayi yang belum genap satu tahun. Ia menjalani keduanya dengan penuh dedikasi, dimana ia bisa membuktikan bahwa perempuan mampu menjalankan banyak peran sekaligus.

Kekuatan Empati dan Keterbukaan

Rezky percaya bahwa menjadi perempuan justru memberinya keunggulan. Ia mengedepankan empati, keterbukaan, dan kemampuan mendengar dalam memimpin tim. Baginya, ruang diskusi yang sehat lahir dari rasa saling percaya.

Kemampuan multitasking yang dimilikinya juga menjadi nilai tambah dalam menghadapi dinamika pekerjaan sehari-hari.

Dari Operator ke Pemimpin Lini Produksi

Cerita inspiratif lainnya datang dari Fariatun (52), seorang Line Leader di fasilitas manufaktur di Pasuruan, Jawa Timur.

Perjalanan kariernya dimulai sejak 1996. Ia tak langsung berada di posisi kepemimpinan, melainkan melalui berbagai peran—dari assembling, packing, hingga cleaning. Pengalaman panjang ini membentuk fondasi kuat sebelum akhirnya ia dipercaya memimpin tim.

Awalnya, rasa gugup tak terhindarkan, terutama karena mayoritas timnya adalah laki-laki. Tantangan terbesar datang dari resistensi terhadap arahan baru. Namun Fariatun memilih pendekatan sederhana: memberi contoh nyata.

Memimpin dengan Ketegasan dan Kepedulian

Kini, Fariatun bertanggung jawab memastikan proses produksi berjalan sesuai target dan jadwal. Ia mengatur tim, mengelola supply, dan menjaga efisiensi operasional.

Sebagai pemimpin, ia dikenal tegas namun tetap humanis. Ia tak ragu membantu operator yang kesulitan, terutama mereka yang baru bergabung. Baginya, empati adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Fariatun memaknai semangat Kartini sebagai dorongan untuk mengambil peran setara di dunia kerja. Ia percaya perempuan memiliki potensi yang sama besar—bahkan sering kali membawa perspektif yang lebih manusiawi dalam kepemimpinan.

Perempuan di Garda Depan Bisnis

Rezky dan Fariatun adalah bagian dari 32% karyawan perempuan di perusahaan mereka, yang secara aktif mendorong keberagaman dan inklusivitas.

Komitmen tersebut bukan sekadar slogan. Dalam beberapa tahun terakhir, keterwakilan perempuan di jajaran kepemimpinan meningkat signifikan—dari 44% pada 2023 menjadi 71% pada 2026.

Lingkungan kerja berbasis meritokrasi menjadi fondasi utama. Setiap individu, tanpa memandang gender, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Upaya pemberdayaan perempuan juga diwujudkan melalui berbagai program pengembangan, seperti pelatihan kepemimpinan, forum diskusi, hingga program khusus bagi talenta muda.

Dina Sitopu, People & Performance Director Kraft Heinz Indonesia, mengatakan, Kraft Heinz Indonesia secara konsisten berkomitmen menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan berbasis meritokrasi. “Kami yakin setiap individu, termasuk perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkontribusi. Komitmen ini tidak hanya bersifat prinsip, tetapi juga tercermin dalam berbagai data dan inisiatif” paparnya. Di Indonesia, Kraft Heinz Indonesia telah menunjukkan progres yang signifikan, dengan peningkatan keterwakilan perempuan di posisi Indonesia Leadership Team dari 44% pada tahun 2023 menjadi 71% pada tahun 2026.

Mendorong Generasi Perempuan Berikutnya

PT Heinz ABC Indonesia (Kraft Heinz Indonesia) menempatkan perempuan sebagai penggerak dalam laju bisnis yang terus bertumbuh. Dina menjelaskan bahwa keberadaan karyawan perempuan patut diperhitungkan karena turut membawa dampak signifikan melalui kontribusi, keputusan dan peran untuk membangun ekosistem bisnis yang inklusif. Rezky dan Fariatun merupakan contoh bahwa perempuan dapat menjadi bagian dari barisan garda terdepan Perusahaan, yang berkontribusi di bidang Penjualan dan Produksi.

Dina menambahkan, Kraft Heinz Indonesia juga mengimplementasikan berbagai program untuk mendukung pemberdayaan perempuan. Di antaranya Women Leadership Institute, sebuah program yang berlaku global di dalam grup Kraft Heinz Company, bertujuan mempercepat pengembangan pemimpin perempuan melalui pelatihan intensif, asesmen, dan kesempatan membangun jejaring dengan para pemimpin perempuan lintas negara. Selain itu, Kraft Heinz Indonesia juga memiliki program Women Leadership Forum, sebagai wadah bagi karyawan perempuan untuk saling berbagi pengalaman dan mempersiapkan diri menuju posisi kepemimpinan yang lebih tinggi.

Salah satunya adalah program pengembangan awal karier yang membuka peluang bagi perempuan untuk masuk ke sektor manufaktur—bidang yang selama ini didominasi laki-laki. Program ini memberikan pengalaman langsung, mentoring intensif, dan jalur karier yang jelas.

Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di sektor formal masih tertinggal dibanding laki-laki. Dari total 146,54 juta pekerja pada Agustus 2025, hanya sekitar 34,66% adalah perempuan.

Namun kisah seperti Rezky dan Fariatun memberi harapan—bahwa perubahan itu nyata dan sedang berlangsung.

Semangat Kartini hari ini bukan lagi sekadar simbol, melainkan aksi nyata. Di ruang rapat, di lapangan, hingga di lini produksi—perempuan terus membuktikan bahwa mereka bukan hanya pelengkap, tetapi penggerak utama.

Dan seperti Rezky serta Fariatun tunjukkan, batasan itu bukan untuk diterima, melainkan untuk dilampaui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *