Pilpres 2019, Gedung Golkar Sambut Konstituennya Tanpa Jarak

  • Home
  • Inspirasi
  • Pilpres 2019, Gedung Golkar Sambut Konstituennya Tanpa Jarak

Foto: Yudi Hartanto- @yudi67dh

“Golkar adalah partai politik lama. Buat saya, sangat identik dengan orde baru. Negatif. Tapi setelah melihat kantor ini, mungkin saya bisa memberi mereka kesempatan”.

Terkadang kita jengah menyaksikan para politisi ‘berakting’. Malah beberapa orang memilih bersikap apatis. Beda dengan para arsitek dari Delution yang terbuka dengan segala kemungkinan. Mereka bisa menangkap visi klien mereka, Golkar Jakarta, untuk berubah menjadi partai politik yang lebih transparan dan membaur dengan rakyat. Biro desain ini mewujudkan visi itu dengan karya arsitektur.

Jika Anda melintasi Menteng dan melihat kantor-kantor partai politik lain dengan pagar tinggi, maka kantor Golkar Jakarta di Cikini ini terlihat sangat menyambut. Tidak ada pagar yang membatasi lahan dengan trotoar untuk pejalan kaki. Belum lagi hamparan hijau rumput sintetis yang mengundang untuk setidaknya satu babak pertandingan futsal. Buat anak-anak, ini adalah arena bermain yang menyenangkan. Siapapun bisa dan diperbolehkan untuk memakai halaman ini. Seolah ada satu lagi taman publik di Cikini.

Motor Vespa ini menjadi identitas partai Golkar yang kekinian dan dekat dengan konstituen milenial.

Muhammad Egha dari Delution yang mendapat dukungan penuh dari Golkar Jakarta sebagai klienya, sepakat untuk mengambil resiko dengan desain halaman depan yang terbuka seperti ini. Kita tahu politik juga identik dengan demo massa yang mungkin beresiko terhadap keamanan gedung kantor ini. Tapi rupanya sang klien lebih mementingkan terwujudnya visi partai mereka ; “Golkar Sahabat Rakyat”.

“Konstituen parpol itu masyarakat. Lalu mengapa harus menutup diri dari masyarakat?,” ujar sang arsitek menirukan pertanyaan kliennya, ketua DPP Golkar Jakarta Fayakhun Andriadi.

Semua ruang di gedung ini punya jendela besar yang menghadap ke selasar. Segala kegiatan yang berlangsung di dalamnya bisa dilihat dari luar. Tentu hanya pegawai kantor dan tamu saja yang lalu-lalang di selasar kantor. Jendela-jendela ini juga membantu pencahayaan ruang sehingga mengurangi pemakaian lampu di siang hari.

Desain modern yang simple mengurangi kesan formal dan kaku yang biasa ada pada kantor parpol.

Gaya kontemporer dan seni pop bukan hanya digunakan sebagai dekorasi, namun juga untuk menampilkan penanda dan penunjuk ruang dan arah. Tentu warna yang banyak digunakan adalah warna identik partai ini, kuning.

Menjelang sore semakin ramai orang yang datang ke tempat ini. Ada yang berfoto, ngobrol, duduk istirahat sejenak sambil mengecek ponsel mereka, atau langsung ke kedai kopi yang ada di sisi taman, di lantai dasar gedung. Bangunan tanpa pagar dengan pelataran luas ini seolah mengundang siapapun yang lewat untuk singgah. Padahal selama ini berekreasi di kantor parpol adalah hal terakhir yang terlintas di benak kebanyakan orang. Saya kira belum ada kantor parpol lain yang punya ‘kemampuan super’ seperti itu. Dan itu bisa terjadi karena kekuatan desain. Salut untuk Muhammad Egha dan kawan-kawan Delution. Baca artikel lainnya di sini.

 

Naskah: Donny Amrin

Tags:
Leave a Comment