Ini Alasan Mengapa Punya Rumah di Jakarta Hanya Mimpi

Foto: Yudi DH

Sebuah survei menunjukkan fakta bahwa pendapatan rata-rata milenial di Jakarta atau kota-kota besar berada dikisaran angka Rp6 juta sampai Rp7 jutaan per bulan. Ini bisa jadi merupakan prestasi, bagi sebagian yang baru merasakan dinamisnya dunia kerja, serunya menjejaki karir, dan menjadi seorang profesional.

Namun, pada saat yang sama, ini merupakan delusi yang hampa-asa. Mengapa demikian? Karena kebanyakan angkatan kerja tersebut, belum mampu menempatkan masa depan secara proporsional. Mereka yang lazim kita sebut sebagai milenial, mengutamakan kehidupan sosial dan gaya hidup sebagai hal yang begitu penting. Lebih penting dibanding usaha untuk memiliki hunian sendiri.

Ini adalah ironi. Karena mau tidak mau, jika paradigma itu terus mengakar, akan makin sedikit para pekerja di kota-kota besar yang mampu memiliki rumah sendiri. Seperti studi yang dirilis oleh URBANtown by PT PP Urban, tentang status kepemilikan rumah atau hunian di Jakarta, menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari jumlah hunian di Jakarta berstatus sewa atau sejenisnya.

Ada lebih dari 56 persen hunian di Jakarta yang statusnya bukan dimiliki oleh penghuninya. Variasinya beragam, paling banyak didominasi status sewa/kos/kontrak. Sisanya ada yang berstatus rumah dinas, rumah keluarga/rumah bersama dan lain sebagainya. Fakta ini sangat mungkin untuk berubah beberapa tahun mendatang. Angka kepemilikan rumah akan semakin menurun seiring dengan kenaikan harga properti yang tinggi.

Kanaikan harga hunian yang tidak mampu diimbangi dengan kenaikan pendapatan warganya. Kalau kita berani ambil asumsi harga hunian paling terjangkau di Jakarta adalah Rp350 juta, dengan rata-rata gaji para first worker adalah Rp7 juta, ini sama saja dengan memupuk angan dan mimpi untuk memiliki hunian sendiri di Ibukota.

 

Naskah: Fauzan Fadli

Tags:
Leave a Comment