Sistem Kontrol Manajemen Keberlanjutan

Foto: attsystemsgroup.comelearningindustry.com

Athome.id – Keberlanjutan telah dianggap sebagai prioritas utama dan menjadi elemen bersama dari budaya perusahaan. Proses transformasi perusahaan membutuhkan perubahan besar (revolusi) atau kecil (evolusi) bergantung pada tingkat kompatibilitas antara aturan, rutinitas, cara pandang, serta akuntabilitas yang ada. Perusahaan dewasa ini dinilai harus mampu mengintegrasikan penganggaran modal dengan proses pengambilan keputusan yang berkelanjutan, serta memiliki sistem sebagai alat penilai kinerja keuangan dengan lingkungan, serta dampak sosial dari keputusan perusahaan, untuk keberlanjutan perusahaan yang memiliki ruang pemantauan dan kontrol, serta membentuk persepsi prinsip keberlanjutan dalam perusahaan.

Tujuan Keberlanjutan

Proses perencanaan dimulai dari definisi tujuan yang jelas, dari mana tujuan diidentifikasi, lalu diterjemahkan menjadi strategi yang tepat, serta dikonversi menjadi tindakan spesifik. Mulai dari pucuk pimpinan tertinggi, ke unit bisnis, hingga karyawan, semuanya bertanggung jawab untuk tujuan tertentu, dan juga secara tranparan berkontribusi pada pencapaian tujuan besar, yang nantinya dikomunikasikan kepada pemegang saham, yang secara substansial terkait dengan peningkatan penjualan bersih, keuntungan per saham, dan total pengembalian bagi pemegang saham.

Strategi dan tindakan berkelanjutan tidak akan dapat dicapai tanpa alat spesifik yang mampu mendorong tindakan manajerial ke arah sasaran. Perlu sistem sebagai alat untuk menyediakan serangkaian data yang berguna untuk pengambilan keputusan berkelanjutan, terutama tentang pengembangan produk baru dan evaluasi hasil dari inovasi dalam perspektif keuangan, sosial, dan lingkungan.

Baca: Penggunaan Praktis Nudge Theory (Teori Pancingan) untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas

Sistem Kontrol Manajemen

Salah satu elemen kunci keberhasilan implementasi berkelanjutan adalah integrasi strategi dengan sistem kontrol perencanaan yang memungkinkan penguraian sasaran yang berkesinambungan secara keseluruhan menjadi tujuan yang bermakna bagi setiap lini di perusahaan. Jika dilihat hanya sebagai tanggung jawab, pembangunan berkelanjutan akan diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dikelola, bukan sebagai peluang bisnis untuk dikejar (Carpenter dan White, 2004).

Sistem Kontrol Manajemen (SKM) merangkul isu-isu sosial dan lingkungan serta menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi internal (Berry et al., 2008; Durden, 2007; Parker, 2005). SKM yang tepat harus memberi umpan balik informasi tentang dampak lingkungan dan sosial yang potensial, kinerja dan inisiatif keberlanjutan, serta reaksi pemangku kepentingan dan keuangan perusahaan (Epstein dan Roy, 2001).

Baca: Janji Milenial : Sebuah Catatan Sumpah Pemuda

Setelah rencana multifungsi ditetapkan, beberapa tujuan spesifik harus ditugaskan untuk masing-masing tim. Setiap karyawan harus merencanakannya kegiatan dan menyusun dua dokumen utama, yaitu Rencana Pengembangan yang berisi kualitatif analisis kekuatan dan kelemahan utama, dan Rencana Tindakan sebagai alat perencanaan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, serta konsisten dengan tujuan.

Evaluasi kinerja formal dilakukan setiap tiga bulan oleh pengawas dan dirangkum dalam dokumen formal, di mana pimpinan perusahaan akan mengomunikasikan kemajuan yang dibuat kepada karyawan dan pemegang saham. Ada buletin kuartalan tentang keberlanjutan di mana pembaruan pencapaian tujuan berkelanjutan disajikan agar setiap karyawan selalu mendapat informasi terbaru tentang prospek perusahaan.

Keberlanjutan Strategi

Perusahaan yang berfokus pada pentingnya keberlanjutan perlu mengintegrasikan strategi dengan sistem perencanaan dan pemantauan, sejalan dengan Porter dan Kramer (2006) yang menyerukan agar lebih banyak lagi integrasi antara bisnis dan masyarakat, serta adanya pendekatan strategis terhadap sosial dan lingkungan. Strategi keberlanjutan berorientasi pada pasar dan produk melalui pengembangan yang inovatif dan lebih peka terhadap lingkungan, dan juga terkait dengan operasi internal untuk mendapatkan penghematan biaya yang signifikan dan proses yang lebih efisien.

Baca: Revolusi Industri 4.0 dan Kampus 5.0

Baca: Pelajaran Bisnis dari Pak Eko

SKM berperan dalam menerapkan strategi berkelanjutan, menerjemahkan strategi menjadi tindakan dan memodifikasi taktik ketika terjadi perubahan arah yang berkelanjutan untuk mendukung proses implementasi. Sistem yang mengintegrasikan antara perencanaan dan sistem pemantauan, kombinasi kontrol formal dan informal, koordinasi lintas unit bisnis dan struktur desentralisasi adalah tiga faktor kunci untuk berhasil dalam implementasi strategi yang berorientasi keberlanjutan.

Demikianlah di atas beberapa buah pemikiran manajemen stratejik tentang model implementasi strategi perusahaan yang bisa kita pelajari dari Riccaboni dan Leone dari Universitas Siena, Italia. Semoga dapat mengilhami untuk mengambil keputusan stratejik lebih baik lagi ke depannya.

Strategi yang bagus adalah hanya sekitar sepuluh persen usaha, sedangkan implementasi adalah 90 persennya. Jadilah kreatif saat menemukan ide, tetapi disiplin saat menerapkannya, karena seperti yang dikatakan oleh Winston Churchill, “Betapapun indah strateginya, Anda sesekali harus melihat hasilnya.”

 

Catatan Seorang Pebisnis

David Cornelis Mokalu

Tags:
Leave a Comment