Foto: squarespace.comimages.startups.co.uk.

Athome.id – Rencana strategis hampir jarang gagal jika disusun dengan baik dan disiapkan melalui proses yang canggih oleh tim konsultan manajemen atau sekelompok manajer andal. Kegagalan hampir selalu terjadi pada proses implementasi. Sikap apatis terhadap implementasi strategi terjadi karena beberapa alasan utama, seperti kemungkinan kegagalan yang lebih besar, kompleksitas yang lebih tinggi, strategi implementasi yang dianggap kurang glamor daripada formulasi, dan kesulitan dalam melibatkan manajer tingkat menengah (Alexander, 1985, Aaltonen dan Ikavalko, 2002).

Tantangan Pelaksanaan Strategi

Hambatan implementasi strategi menurut Alexander (1991) adalah karena pimpinan tidak memiliki model praktis untuk memandu tindakan selama pelaksanaan. Banyak kegagalan dalam pengimplementasian strategi disebabkan karena kurangnya kejelasan dalam menentukan tujuan, tercermin adanya ambiguitas dalam menetapkan langkah-langkah efektivitas, dan tidak menindaklanjuti pencapaian secara rutin, dalam implementasi proyek, prosedural, dan alokasi sumber daya.

Hrebiniak (2006) menunjukkan beberapa masalah umum yang menghambat strategi pelaksanaan adalah karena pemimpin dilatih untuk merencanakan dan tidak untuk menjalankan strategi, para pimpinan puncak enggan mengulurkan tangan mereka di tugas-tugas implementasi. Adapun hambatan-hambatan utamanya karena ketidakmampuan untuk mengelola perubahan, strategi yang samar, tidak memiliki model panduan upaya implementasi, informasi yang tidak memadai, tanggung jawab dan akuntabilitas yang tidak jelas, serta bekerja melawan kekuatan struktur organisasi.

Kerangka Kerja Strategis

Untuk menjawab hambatan tersebut, tersedia kerangka kerja 7-S McKinsey yang populer oleh Peters et al. (1980) yang mempertimbangkan faktor-faktor implementasi, seperti strategi, struktur, sistem, gaya kepemimpinan, staf, keterampilan, dan nilai-nilai perusahaan. Skivington dan Daft (1991) memilih beberapa keputusan strategis dan memeriksa bagaimana bisa diterapkan dalam menempatkan strategi generik kompetitif berbiaya rendah dan diferensiasinya, serta mengidentifikasi strategi, struktur, sistem, interaksi, dan sanksi yang penting, lalu membaginya menjadi kerangka kerja yang dapat digunakan dalam pengimplementasian strategi.

Baca: Sistem Kontrol Manajemen Keberlanjutan

Baca: Penggunaan Praktis Nudge Theory (Teori Pancingan) untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas

Kerangka kerja strategis dikatakan oleh Hambrick dan Fredrickson (2005) bahwa bisnis harus memiliki strategi tunggal yang terpadu dan memiliki bagian desain strategis yang mencakup lima elemen: Di mana perusahaan akan aktif? Bagaimana akan sampai di sana? Bagaimana memenangkan pasar? Apa yang akan menjadi kecepatan dan urutan bergerak? Dan bagaimana mendapatkan keuntungan?

Kerangka kerja implementasi strategi mencakup lima wilayah besar, yang pertama adalah struktural seperti arsitektur, desain, kontrol, dan penghargaan. Kedua, perilaku seperti kepemimpinan, budaya, etika bisnis, dan pengelola perubahan. Ketiga, pelaksanaan seperti tata kelola perusahaan dan kontrol strategis. Keempat, fungsional seperti pemasaran, keuangan, operasi, litbang, dan rantai pasokan manajemen. Dan kelima, operasional seperti alokasi sumber daya, teknologi, inovasi, serta alih daya.

Baca: Janji Milenial : Sebuah Catatan Sumpah Pemuda

Baca: Revolusi Industri 4.0 dan Kampus 5.0

Berbagai faktor dalam kerangka kerja dapat diringkas sebagai berikut, yang pertama konten strategis mengacu pada mengapa dan bagaimana strategi dimulai. Kedua, konteks eksternal mengacu pada tingkat ketidakpastian dan perubahan dalam tugas dan lingkungan. Ketiga, konteks internal mengacu pada konfigurasi struktur organisasi, budaya, dan kepemimpinan. Dan keempat, proses organisasi mengacu pada perencanaan operasional, alokasi sumber daya, komunikasi, serta hasil. Poin pentingnya adalah sejauh mana suatu organisasi berhasil membangun sistem prioritas untuk setiap tindakan implementasi diperlukan.

Efektivitas Implementasi Strategi

Pendekatan untuk efektivitas operasional didasarkan pada produktivitas, proses, orang, dan kecepatan (Kazmi, 2008). Strategi mengelola perubahan mencakup implementasi struktural, kepemimpinan, dan perilaku. Efektivitas dihasilkan dari interaksi implementasi yang berkesinambungan pada tingkat fungsional dan operasional. Kesepakatan implementasi fungsional terdapat pada area pemasaran, keuangan, alokasi sumber daya, dan koordinasi kegiatan. Sedangkan konvensi implementasi operasional sepenuhnya berorientasi pada tindakan.

Perusahaan yang kuat akan menanamkan visi dan misinya pada organisasi hingga pada proses implementasi, dengan tujuan untuk membangun kerangka kerja stratejik baru yang bisa lebih relevan dengan kondisi yang ada. Kebutuhan terhadap kerangka kerja sangat terasa dalam hal strategi pelaksanaan karena menyangkut serangkaian tugas yang sangat kompleks dan pimpinan perlu tahu apa urutan yang harus diikuti, mengapa langkah-langkah yang diperlukan, dan apa yang lebih penting.

Demikianlah di atas beberapa buah pemikiran manajemen stratejik tentang model implementasi strategi perusahaan yang bisa kita pelajari dari Azhar Kazmi dari Universitas Raja Fahd, Arab Saudi. Semoga dapat mengilhami untuk mengambil keputusan stratejik lebih baik lagi ke depannya.

Rencanakan eksekusi perusahaan dan jalankan rencana tersebut. Sudah waktunya untuk fokus pada pelaksanaan strategi, karena eksekusilah yang terpenting. Tanpa strategi, eksekusi menjadi tanpa tujuan. Tanpa eksekusi, strategi juga tidak berguna. Orang biasa punya ide bagus, pimpinan yang melegenda memiliki eksekusi yang hebat. Eksekusi adalah kunci kesuksesan.

 

Catatan Seorang Pebisnis

David Cornelis Mokalu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.