Athome.id — Persoalan sampah di Jakarta membutuhkan perubahan kebiasaan yang dimulai dari hal paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: rumah. Di tengah timbulan sampah yang kini mencapai sekitar 9.050 ton per hari, kebiasaan memilah sampah dari sumber menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Sejalan dengan upaya tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memberlakukan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber sejak 1 Agustus 2026. Kebijakan ini mendorong masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumber agar lebih banyak material dapat dikelola, didaur ulang, dan dimanfaatkan kembali.

Bagi IKEA Indonesia, perubahan kebiasaan tersebut dapat dimulai dari cara rumah dirancang dan ditata.

Bukan Sekadar Memilah, tapi Membuatnya Mudah

Sebagai perusahaan yang memahami berbagai aktivitas di rumah, IKEA Indonesia melihat bahwa kebiasaan baik akan lebih mudah dilakukan ketika lingkungan di sekitarnya mendukung.

Termasuk dalam urusan memilah sampah. Menempatkan wadah sampah sesuai jenisnya dan sedekat mungkin dengan sumber sampah dapat membuat proses pemilahan terasa lebih praktis dan tidak menjadi pekerjaan tambahan.

“Rumah adalah tempat banyak kebiasaan sehari-hari dimulai, termasuk cara kita mengelola sampah. Kami melihat bahwa melalui hal-hal sederhana dan kecil, seperti menempatkan wadah pemilahan lebih dekat dengan sumber sampah, dapat membantu menjadikan kebiasaan ini lebih mudah dilakukan setiap hari. Prinsip yang sama juga kami terapkan dalam operasional IKEA,” ujar Ahmad Alhamid, Sustainability Business Partner IKEA Indonesia.

Dari Toko IKEA, Sampah Dipilah dan Diolah

Kebiasaan memilah sampah bukan hanya menjadi inspirasi bagi pelanggan. Di seluruh toko IKEA Indonesia, pemilahan sampah telah menjadi bagian dari operasional sehari-hari.

Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya agar dapat ditangani dengan metode yang tepat. Melalui kerja sama dengan mitra pengelola dan pihak ketiga, kertas dan kardus didaur ulang menjadi bahan baku baru. Sementara itu, plastik, logam, dan kaca disalurkan kepada mitra pengelola untuk diproses kembali.

Sampah organik dari restoran IKEA juga tidak begitu saja berakhir sebagai limbah. Sampah tersebut diolah oleh mitra pengelola melalui proses biokonversi dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF).

Adapun sampah residu dikelola melalui teknologi seperti Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai salah satu upaya mengurangi volume limbah yang berakhir di TPA.

Memberikan “Kesempatan Kedua” untuk Produk

Upaya IKEA dalam mengurangi limbah juga tidak berhenti pada pengelolaan sampah. IKEA turut berupaya memperpanjang usia pakai produk melalui program Product Recovery.

Produk retur pelanggan, produk pajangan, maupun produk dengan kerusakan ringan terlebih dahulu dinilai untuk menentukan apakah masih dapat diperbaiki, dibersihkan, atau dikemas ulang.

Produk yang berhasil dipulihkan kemudian dijual kembali melalui area As-Is. Dengan cara ini, produk yang masih memiliki nilai guna mendapatkan kesempatan kedua untuk digunakan, sekaligus membantu mengurangi potensi limbah.

Bahkan, komponen yang masih layak pakai dapat dimanfaatkan sebagai suku cadang untuk membantu pelanggan memperpanjang usia furnitur mereka.

Kebiasaan Pilah Sampah Bisa Dimulai dari Dapur

Pengalaman IKEA dalam mengelola sampah dan memperpanjang usia produk kemudian menjadi inspirasi untuk membantu masyarakat menerapkan kebiasaan serupa di rumah.

Salah satu langkah paling sederhana adalah menempatkan wadah pemilahan sedekat mungkin dengan sumber sampah.

Dapur, ruang makan, hingga area servis dapat menjadi titik awal. Ketika wadah pemilahan tersedia di tempat sampah paling sering dihasilkan, proses memilah dapat dilakukan secara spontan dan konsisten.

Dengan begitu, memilah sampah tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari rutinitas sehari-hari.

Solusi Fleksibel untuk Berbagai Ukuran Rumah

Menerapkan sistem pemilahan sampah di rumah tentu tidak harus selalu membutuhkan ruang besar. Setiap keluarga memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.

Untuk mendukung hal tersebut, IKEA menghadirkan berbagai solusi pemilahan sampah yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan rumah. Produk seperti HÅLLBAR dan SORTERA menawarkan desain modular yang membantu memanfaatkan ruang secara lebih efisien.

Sebagian besar rangkaian tersebut juga dibuat menggunakan material daur ulang. Di toko IKEA, pelanggan dapat menemukan berbagai inspirasi penataan solusi pemilahan sampah yang praktis dan dapat disesuaikan dengan aktivitas sehari-hari.

Tak Perlu Menunggu Sempurna untuk Mulai

Pada akhirnya, perubahan kebiasaan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Memiliki beberapa wadah pemilahan, menempatkannya di lokasi yang tepat, dan membiasakan seluruh anggota keluarga menggunakannya dapat menjadi langkah awal yang sederhana.

“Setiap rumah memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga tidak ada satu cara yang sama untuk semua orang. Yang terpenting adalah memulai dengan langkah yang paling mudah dilakukan di rumah masing-masing. Kami berharap pengalaman yang kami terapkan di IKEA dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak keluarga untuk memulai kebiasaan memilah sampah dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Ahmad.

Di tengah tantangan pengelolaan sampah Jakarta, perubahan besar bisa saja dimulai dari keputusan kecil di dalam rumah: memilah sebelum membuang. Ketika kebiasaan tersebut dibuat mudah, dilakukan berulang, dan menjadi bagian dari rutinitas keluarga, rumah pun dapat menjadi titik awal perubahan untuk lingkungan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *