Athome.id – Setelah sukses menghadirkan koleksi Urub dan Pasar Malam, LAKON Indonesia kembali memperkenalkan lebih dekat koleksi terbarunya bertajuk HARSA melalui sesi Re-See usai penampilannya di BRI JF3 Fashion Festival 2026 lalu. Lebih dari sekadar koleksi busana, HARSA menjadi refleksi perjalanan delapan tahun LAKON Indonesia dalam membangun inovasi bersama para pengrajin batik dan wastra Nusantara, sekaligus merayakan kebahagiaan yang lahir dari setiap proses kreatif.

Dalam kesempatan tersebut, media diajak melihat langsung detail koleksi sekaligus memahami proses kreatif yang melatarbelakangi setiap karya.
HARSA, Merayakan Kebahagiaan dalam Proses
Nama HARSA, yang diambil dari bahasa Sanskerta dan berarti kebahagiaan menjadi babak baru perjalanan kreatif LAKON Indonesia setelah koleksi Urub dan Pasar Malam. Jika Urub merepresentasikan semangat yang terus menyala dan Pasar Malam mengangkat dinamika kehidupan sebagai ruang pertemuan manusia, maka HARSA mengajak publik menikmati setiap proses, menghargai perjalanan, dan menemukan kebahagiaan dalam setiap langkah yang dilalui.

Di tengah industri mode yang semakin menuntut kecepatan, LAKON Indonesia justru memilih arah yang berbeda.
HARSA hadir sebagai pengingat bahwa ada nilai yang tidak dapat dipercepat, yakni proses, keterampilan, dan dedikasi yang melahirkan sebuah karya.
Penghormatan bagi Para Artisan
Koleksi ini menjadi penghormatan bagi para pembatik, pembordir, penjahit, hingga seluruh artisan yang selama ini berada di balik setiap karya LAKON Indonesia. Bagi rumah mode yang telah memasuki usia delapan tahun tersebut, para pengrajin bukan sekadar mitra produksi, tetapi bagian penting dari perjalanan kreatif yang terus tumbuh bersama.
Selama bertahun-tahun, LAKON Indonesia membangun berbagai eksperimen bersama para artisan, mulai dari mencoba teknik baru, menghadapi kegagalan, melakukan penyempurnaan, hingga akhirnya menghasilkan inovasi yang meningkatkan kualitas karya sekaligus nilai ekonomi para pengrajin Indonesia.

Founder LAKON Indonesia, Co-Initiator PINTU Incubator, sekaligus Advisor JF3 Fashion Festival, Thresia Mareta, mengatakan HARSA lahir dari refleksi perjalanan panjang yang dibangun bersama para pengrajin.
“Selama delapan tahun membangun LAKON Indonesia, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya datang ketika sebuah karya selesai. Kebahagiaan justru hadir dalam setiap proses yang kami jalani, mulai dari berdiskusi, bereksperimen, menghadapi tantangan, hingga melihat hasilnya terus berkembang. HARSA lahir dari rasa syukur atas perjalanan tersebut,” ujar Thresia.
Menurutnya, karya tangan membutuhkan waktu, kesabaran, ketelitian, dan hati. Justru di situlah nilai sesungguhnya dari sebuah karya lahir.
“Melalui HARSA kami ingin merayakan proses. Merayakan sesuatu yang dijalani dengan sepenuh hati karena memahami tujuannya. Ketika semuanya berproses, kebahagiaan akan menemukan jalannya,” tambahnya.
Eksplorasi Material dan Proses Kreatif
Thresia menjelaskan bahwa koleksi “Harsa” merupakan hasil eksplorasi panjang terhadap berbagai material dan teknik pengerjaan. Beragam bahan seperti satin duchess, jacquard, organza, hingga batik pada katun primis, katun voal, dan jacquard digunakan untuk menghasilkan tampilan yang berbeda dari koleksi sebelumnya.

Menurut Thresia, setiap karya lahir melalui proses trial and error yang panjang sebelum mencapai bentuk akhirnya.
“Kami banyak bereksperimen. Sebelum menjadi seperti sekarang, ada banyak proses yang kami lalui,” ujarnya saat sesi Re-See.

Salah satu perhatian utama dalam koleksi ini adalah eksplorasi tekstur melalui aplikasi bunga tiga dimensi, permainan warna, serta detail bordir dan payet yang seluruhnya dikerjakan secara manual.
Dua Bulan untuk Sebuah Busana
Untuk satu busana dengan teknik full hand-beading, proses pengerjaan bahkan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Ribuan payet dijahit satu per satu oleh para perajin sehingga menghasilkan tekstur yang kaya dan detail yang presisi.
Karena proses produksinya yang kompleks, busana tersebut hanya tersedia melalui sistem made-to-order.
“Semakin rapat detail beads yang dikerjakan dengan tangan, tentu membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih tinggi,” jelas Thresia

Meski demikian, LAKON tetap menghadirkan koleksi ready-to-wear. Thresia menjelaskan bahwa koleksi yang dipamerkan kali ini terbagi menjadi dua kategori, yakni karya yang memang dipersiapkan untuk dipasarkan dan karya eksploratif yang bertujuan menunjukkan kemampuan teknik yang telah dikembangkan tim LAKON.
Teras LAKON sebagai Laboratorium Inovasi
Menurut Thresia, berbagai eksperimen yang dilakukan di Teras LAKON akan menjadi arsip pengembangan desain yang nantinya dapat diterjemahkan menjadi produk ready-to-wear ketika waktunya tepat.
Pendekatan tersebut, sempat mendapat perhatian dari tamu asal Prancis yang mempertanyakan tingginya kualitas eksekusi koleksi LAKON meski menyasar pasar menengah.

Ia menjelaskan bahwa kualitas tersebut merupakan hasil investasi jangka panjang melalui riset dan pengembangan teknik yang terus dilakukan.
“Setiap eksperimen yang kami lakukan akan menjadi arsip. Ketika waktunya tepat, hasil pengembangan itu bisa diterjemahkan menjadi koleksi ready-to-wear,” katanya.
Mengangkat Batik ke Level yang Lebih Tinggi
Kekayaan batik dan bordir dalam koleksi HARSA diterjemahkan melalui siluet modern dengan permainan proporsi, konstruksi busana, serta eksplorasi material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, hingga organza. Pendekatan tersebut menghasilkan koleksi yang menghadirkan kemewahan secara subtil, namun tetap relevan dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain mengeksplorasi material, LAKON juga memperkenalkan perkembangan teknik bordir yang kini mencapai tahap lebih kompleks. Bordir dua sisi yang tetap rapi pada kedua permukaan, termasuk di atas bahan organza, menjadi salah satu inovasi yang diperlihatkan kepada media.
Di sisi lain, eksplorasi juga dilakukan pada media batik. LAKON menghadirkan batik tulis pada berbagai jenis kain, seperti katun primis, katun voal, jacquard, dan organza. Seluruhnya merupakan batik asli, bukan hasil cetak digital.

“Batik Indonesia terus berkembang. Kami ingin menunjukkan bahwa batik tidak hanya hadir dalam bentuk yang konvensional, tetapi juga bisa menjadi medium eksplorasi desain yang modern,” kata Thresia.
Mulai Terima Pesanan Wedding Gown
Dalam kesempatan yang sama, LAKON juga mengumumkan bahwa mereka kini mulai menerima pembuatan wedding gown. Meski tetap mempertahankan karakter desain khas LAKON, Thresia menilai gaun pengantin tidak harus selalu mengikuti pakem warna putih.

“Bagi saya, kebebasan adalah ketika kita memiliki banyak pilihan,” ujarnya.
Konsep tersebut membuka ruang bagi calon pengantin untuk mengekspresikan karakter mereka melalui warna, tekstur, maupun siluet yang berbeda dari pakem konvensional.
Mode yang Fleksibel dan Relevan
Selain karya eksklusif, LAKON juga menampilkan sejumlah koleksi yang dirancang lebih fleksibel untuk digunakan sehari-hari. Melalui permainan styling, koleksi tersebut dapat dipadukan lintas gaya, termasuk memadukan elemen busana pria dan perempuan.

Presentasi tersebut menunjukkan bahwa koleksi LAKON tidak hanya terdiri atas busana runway yang artistik, tetapi juga memiliki berbagai pilihan yang dapat dikenakan dalam aktivitas sehari-hari.
Merawat Tradisi Melalui Inovasi
Melalui koleksi “Harsa”, LAKON Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk mengembangkan batik dan wastra Nusantara melalui pendekatan yang inovatif. Tidak hanya mempertahankan nilai tradisi, tetapi juga menghadirkannya dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan mode kontemporer.
Sesi Re-See menjadi kesempatan bagi publik untuk melihat bahwa di balik sebuah koleksi fesyen, terdapat proses panjang yang melibatkan riset, eksperimen material, keterampilan para perajin, dan komitmen untuk terus mendorong perkembangan tekstil Indonesia.

Memasuki usia delapan tahun, LAKON Indonesia menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Melalui HARSA, rumah mode ini justru membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan terus bereksperimen, mengembangkan keterampilan para artisan, dan menghadirkan batik dalam bahasa desain yang relevan bagi masa kini. Lebih dari sebuah koleksi, HARSA menjadi perayaan atas proses, kolaborasi, dan kebahagiaan yang tumbuh bersama mereka yang menghidupkan wastra Indonesia.