Athome.id – Dari tanah, sekam padi, akar, hingga jejak tangan manusia, Tapak Tumbuh menghadirkan perjalanan material alam menjadi tekstur, struktur, tekstil, dan ruang hidup dalam sebuah instalasi imersif di Pantai Pengembak, Sanur, Bali.

Di tengah lanskap desain yang semakin bergerak menuju keberlanjutan, sebuah pertanyaan sederhana kembali mengemuka, dari mana sebenarnya sebuah ruang bermula?

Pertanyaan itulah yang menjadi titik berangkat Tapak Tumbuh: A Landscape in Transformation, instalasi kolaboratif yang hadir dalam JIA Curated 2026 di Pantai Pengembak, Sanur, Bali.

Resmi dibuka pada 13 Agustus 2026, instalasi ini mempertemukan Moire Rugs, product designer Eugenio Hendro, serta enam mitra kolaborasi—Planawood, Singres Tiles, Presisi Contractor, Visalux, Fumira, dan Rafes England—dalam satu perjalanan yang menghubungkan alam, material, kriya, teknologi, dan kehidupan.

Bukan sekadar booth pameran, Tapak Tumbuh dirancang sebagai living experimental space: sebuah lanskap eksperimental yang mengajak pengunjung berjalan, berhenti, menyentuh, mengamati, dan merasakan bagaimana material mentah dapat berubah menjadi pengalaman ruang.

Ketika Alam Menjadi Bahasa Desain

Mengusung semangat tema Nature Weave, Tapak Tumbuh memandang lanskap bukan sebagai latar belakang, melainkan sebagai sesuatu yang terus bergerak dan bertransformasi.

Tanah tidak berhenti sebagai tanah. Hasil panen tidak berakhir sebagai limbah. Akar, daun, dan vegetasi tidak hanya menjadi elemen dekoratif. Semuanya dapat menemukan kehidupan baru ketika bertemu dengan gagasan, teknologi, keterampilan, dan tangan manusia.

“Dalam Tapak Tumbuh, lanskap tidak kami pahami sebagai sekadar latar, tetapi sebagai proses yang terus bertumbuh dan bertransformasi dengan tujuan yang jelas. Dalam proses itu, niat manusia memegang peran penting dalam mengarahkan hubungan yang lebih baik dengan alam,” ujar Eugenio Hendro, Product Designer sekaligus konseptor Tapak Tumbuh.

Menurutnya, perjalanan tersebut bermula dari bumi, bergerak melalui panen dan vegetasi, lalu bertemu dengan tangan manusia untuk menghasilkan sesuatu yang baru.

“Dari bumi, panen, vegetasi, hingga tangan manusia, semuanya merangkai perjalanan yang saling terhubung. Instalasi ini mengingatkan kita bahwa desain terbaik lahir saat kita kembali memahami asal-usul material dan bagaimana ia bernapas di dalam ruang,” lanjut Eugenio Hendro.

Empat Babak Earth, Harvest, Vegetation, dan Hands

Kekuatan Tapak Tumbuh terletak pada narasinya yang tidak disusun sebagai kumpulan display terpisah. Pengunjung justru diajak mengikuti sebuah alur material yang terbagi dalam empat lapisan utama: Earth, Harvest, Vegetation, dan Hands.

Earth: Jejak Tanah yang Menjadi Permukaan

Perjalanan dimulai dari Earth, yang diterjemahkan melalui permukaan keramik dan mosaik dengan inspirasi dari tanah, retakan bumi, lapisan geologis, hingga lanskap pertanian.

Di area masuk, karya Singres Tiles menyambut pengunjung melalui dinding mosaik yang memiliki karakter visual menyerupai jejak tanah dan sedimen.

Menariknya, setiap tile ditekan secara manual ke dalam cetakan besi. Jejak yang tertinggal bukan sekadar motif, tetapi menjadi rekaman fisik dari proses pembuatannya.

Di sini, material tidak hanya memiliki fungsi estetis. Ia juga menyimpan cerita tentang tangan yang membuatnya.

Harvest: Dari Sisa Panen Menjadi Struktur

Dari tanah, perjalanan berlanjut menuju Harvest.

Pada bagian ini, potensi limbah sekam padi dan HDPE daur ulang dieksplorasi menjadi material struktural dan permukaan arsitektural melalui kontribusi Planawood.

Sekam yang sebelumnya dipandang sebagai sisa hasil panen dipadatkan dan diolah menjadi bentuk fungsional yang membantu menopang kerangka instalasi.

Transformasi ini menghadirkan sebuah gagasan penting: material yang dianggap sisa pun dapat memiliki kehidupan kedua ketika dilihat melalui perspektif desain.

Vegetation: Ketika Tekstil Menjadi Lanskap

Lapisan berikutnya adalah Vegetation, yang menjadi salah satu pengalaman visual paling kuat dalam Tapak Tumbuh.

Melalui hamparan tufted woven vegetation dari Moire Rugs, energi akar, daun, dan serat diterjemahkan menjadi lanskap tekstil berskala besar.

Permukaannya tidak tampil datar. Relief, tekstur, dan perbedaan tinggi serat membentuk semacam topografi yang dapat dijelajahi.

Karpet pun berhenti menjadi sekadar elemen pelengkap interior. Ia berubah menjadi landscape yang dapat dirasakan dengan tubuh.

Pengunjung seolah berjalan di antara pulau-pulau organik yang terus tumbuh, menghubungkan pengalaman alam dengan bahasa interior secara lebih emosional dan imersif.

Hands: Titik Temu Manusia dan Material

Seluruh perjalanan kemudian bermuara pada Hands, ruang yang mempertemukan material, furnitur, produk kolaboratif, dan jejak kerja manusia.

Di sinilah narasi Tapak Tumbuh menemukan maknanya: alam menyediakan material, tetapi manusialah yang mengolah, mengarahkan, dan memberinya konteks baru.

Kolaborasi dengan Presisi Contractor memastikan seluruh gagasan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bentuk fisik secara presisi, tanpa menghilangkan kedalaman narasi desain.

Sementara itu, kontribusi Visalux, Fumira, dan Rafes England melengkapi pengalaman melalui pencahayaan, penyelesaian paviliun, serta eksplorasi fungsi yang memperkuat suasana keseluruhan.

Delapan Creative Maker, Satu Perjalanan

Berbeda dari pendekatan pameran yang menampilkan setiap kolaborator sebagai entitas terpisah, Tapak Tumbuh justru memilih untuk menenun delapan creative maker ke dalam satu cerita.

Tidak ada batas tegas antara satu material dan material lainnya. Pengunjung dibawa dari permukaan bumi, menuju hasil panen, kemudian melewati vegetasi, sebelum akhirnya tiba pada ruang yang menegaskan peran tangan manusia.

Dengan pendekatan tersebut, kolaborasi tidak hanya terlihat dalam daftar nama, tetapi hadir sebagai pengalaman yang saling berkesinambungan.

Sunset Soiree, Ketika Senja Mengantar Pengunjung ke Dalam Ruang

Atmosfer Tapak Tumbuh semakin terasa melalui Sunset Soiree, yang digelar sebagai momen transisi dari cahaya senja menuju interior paviliun.

Ketika cahaya alami perlahan meredup, ruang berubah menjadi lebih hangat. Palet bumi, material bertekstur, pencahayaan, dan lanskap tekstil kemudian membangun suasana yang berbeda dari pengalaman di siang hari.

Transisi tersebut menjadi bagian dari desain itu sendiri seolah paviliun ikut bernapas mengikuti perubahan waktu.

Dari Lesung, Beras, hingga Komunitas

Narasi tentang alam dan material tidak berhenti pada bentuk fisik instalasi.

Sepanjang pameran, Tapak Tumbuh menghadirkan Pound to Grow, sebuah aktivasi yang mengajak pengunjung menumbuk padi menggunakan lesung tradisional.

Aktivasi ini menjadi penghormatan terhadap tradisi agraris Bali sekaligus bagian dari kontribusi sosial. Hingga hari penutupan, partisipan turut menghasilkan beras yang kemudian didonasikan kepada keluarga dan pura di Jatiluwih, Tabanan, melalui kolaborasi dengan Bali Street Mums Project.

Dengan demikian, apa yang dimulai dari bumi tidak berhenti di dalam paviliun. Ia kembali kepada komunitas.

Bukan Sekadar Berkelanjutan, tetapi Memahami Asal-Usul Material

Kehadiran Tapak Tumbuh di JIA Curated 2026 memperlihatkan bahwa wacana keberlanjutan dalam desain dapat dibicarakan dengan cara yang lebih dekat, sensual, dan manusiawi.

Alih-alih hanya berbicara mengenai material ramah lingkungan sebagai spesifikasi teknis, instalasi ini mengajak pengunjung memahami perjalanan sebuah material, dari mana ia berasal, bagaimana ia diproses, siapa yang mengerjakannya, dan bagaimana ia akhirnya hidup di dalam ruang.

Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter JIA Curated sebagai platform yang mempertemukan craft, design, dan culture. Berakar dari makna “Jia” sebagai rumah, platform ini membawa semangat gotong royong sebagai fondasi kolaborasi dan dialog kreatif.

Masa Depan Desain yang Berakar pada Bumi

Pada akhirnya, Tapak Tumbuh bukan hanya tentang apa yang terlihat di dalam sebuah paviliun. Ia berbicara tentang cara baru memandang proses desain.

Tentang tanah yang dapat menjadi permukaan. Tentang sekam yang dapat menjadi struktur. Tentang serat yang dapat berubah menjadi lanskap. Dan tentang tangan manusia yang menghubungkan semuanya menjadi ruang.

“Lebih dari sebuah instalasi, Tapak Tumbuh merupakan pernyataan tentang masa depan desain: bahwa kemajuan, kriya, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan, berakar pada bumi, dan bertumbuh melalui kolaborasi,” tutup Eugenio Hendro.

Di Sanur, selama lima hari, Tapak Tumbuh mengajak publik melihat desain dari titik yang lebih awal bukan ketika sebuah produk telah selesai, tetapi ketika semuanya masih bermula dari bumi.

Sebab pada akhirnya, setiap ruang punya cerita tentang asal-usulnya. Dan melalui Tapak Tumbuh, cerita itu kembali ditulis dari tanah, panen, vegetasi, dan tangan manusia, sebuah lanskap yang tidak pernah benar-benar selesai, karena selalu tumbuh dan berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *