23 Tahun Berkarya, FORTRESS Bidik Babak Baru Industri Pintu Baja Indonesia

Athome.id  — 23 tahun bukan sekadar angka bagi PT Jaya Bersama Saputra Perkasa (JBS Perkasa). Di usia tersebut, perusahaan yang menaungi FORTRESS, FORTRESS Smart Lock, dan MEVVAH Wall Panel itu justru tengah memasuki babak baru,  memperkuat fondasi manufaktur di dalam negeri sekaligus memperluas kolaborasi dengan industri properti nasional.

Langkah tersebut ditandai dengan pembangunan FORTRESS MFG, fasilitas manufaktur pintu baja di kawasan Curug Wetan, Kabupaten Tangerang, Banten.

Dengan investasi tahap awal sekitar Rp50 miliar, fasilitas yang berdiri di atas lahan sekitar 10.700 meter persegi atau 1,07 hektare itu diproyeksikan menjadi salah satu pusat produksi pintu baja FORTRESS untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Bangunan utama pabrik kini telah rampung. Tahap berikutnya adalah pemasangan serta commissioning mesin produksi yang ditargetkan berlangsung pada kuartal IV 2026.

Founder sekaligus CEO PT JBS Perkasa & PT. Modern Metal Makmur (3M) PerkasaJoni Effendi, mengatakan investasi tersebut dilakukan secara bertahap. Setelah tahap awal berjalan, perusahaan membuka peluang untuk menambah lini produksi guna meningkatkan efisiensi dan kapasitas.

“Investasi ini kita bagi menjadi bertahap. Tahap pertama sekitar Rp50 miliar. Setelah berjalan, kita ingin mengembangkan lagi line-line produksi yang baru untuk mengisi efisiensinya.”

Bagi Joni, pembangunan FORTRESS MFG bukan semata-mata soal mendirikan pabrik. Lebih jauh, langkah tersebut merupakan bagian dari ambisi membangun kemampuan industri dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.

“Kami memiliki impian agar ke depan FORTRESS dapat menghadirkan pintu baja yang diproduksi di dalam negeri. FORTRESS MFG merupakan bagian dari perjalanan menuju impian tersebut. Bagi kami, ini bukan hanya mengenai membangun fasilitas produksi, tetapi bagaimana kita dapat membangun kemampuan industri dari Indonesia untuk Indonesia,” jelas Joni lebih lanjut.

Bisa Produksi 600 Pintu Sehari

Pabrik baru FORTRESS dirancang untuk memproduksi pintu baja secara lebih terintegrasi.

Pada tahap awal, kapasitas produksi diperkirakan mencapai sekitar 200 unit dalam satu shift atau delapan jam kerja. Jika kelak fasilitas beroperasi dalam tiga shift, kapasitas teoritisnya dapat mencapai sekitar 600 unit per hari.

Namun, perusahaan tidak akan langsung mengoperasikan kapasitas maksimal tersebut. Peningkatan produksi akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan mesin, tenaga kerja, serta pertumbuhan permintaan pasar.

Pada fase awal, fasilitas tersebut akan memproduksi salah satu tipe pintu, khususnya produk di segmen ekonomis yang menyasar kebutuhan rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Strategi ini sekaligus menjadi langkah awal FORTRESS dalam membangun kompetensi manufaktur sebelum memperluas jenis produk yang diproduksi di dalam negeri.

Pasar Pintu Baja Masih Terbuka Lebar

Ekspansi manufaktur dilakukan bukan tanpa alasan. JBS Perkasa melihat pasar pintu baja di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.

National Sales Director PT Jaya Bersama Saputra Perkasa, Hens Sumarauw, mengungkapkan penjualan pintu baja FORTRESS saat ini rata-rata mencapai sekitar 15.000 unit per bulan.

Jika volume tersebut dipertahankan selama lima tahun, total penjualan dapat mencapai sekitar 900.000 unit.

Pasarnya pun tidak hanya berasal dari pembangunan rumah baru. Kebutuhan pintu baja juga datang dari sektor renovasi rumah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan tetap optimistis menghadapi dinamika pasar properti.

“FORTRESS tidak hanya melayani pintu untuk rumah yang baru dibangun. Kita juga melayani pintu untuk rumah-rumah yang sedang renovasi.”

Dengan karakter pasar seperti itu, perlambatan pembangunan rumah baru tidak serta-merta menghilangkan peluang pertumbuhan karena terdapat pasar penggantian dan renovasi yang terus berjalan.

Rumah Subsidi Jadi Salah Satu Bidikan

Segmen rumah subsidi dan MBR juga menjadi perhatian FORTRESS.

Hens menjelaskan, hingga saat ini belum terdapat aturan pemerintah yang secara spesifik menetapkan harga pintu untuk rumah subsidi. Pengadaan pintu dan jendela umumnya mengikuti rencana anggaran biaya atau RAB yang ditetapkan pengembang.

Namun, menurut dia, kompetisi di segmen rumah subsidi mulai bergeser. Pengembang tidak hanya mengejar harga murah, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas material untuk memberikan nilai tambah terhadap produk propertinya.

Salah satu perubahan yang mulai terlihat adalah pergeseran penggunaan material pintu dari berbagai jenis kayu menuju pintu baja.

“Developer berlomba-lomba untuk menaikkan value agar properti mereka cepat terjual. Mereka berani menaikkan kualitas material yang ada.”

Tren tersebut membuka peluang lebih besar bagi FORTRESS untuk masuk ke proyek-proyek perumahan, termasuk segmen MBR.

B2C Masih Jadi Tulang Punggung

Dari sisi kanal penjualan, konsumen langsung atau business-to-consumer (B2C) masih menjadi pasar terbesar FORTRESS, dengan kontribusi di atas 50 persen.

Setelah B2C, perusahaan melihat peluang pertumbuhan dari segmen business-to-business (B2B) dan business-to-government (B2G).

B2B mencakup kebutuhan pintu untuk proyek-proyek properti dan bangunan, sementara B2G mencakup peluang pengadaan yang berkaitan dengan proyek maupun instansi pemerintah.

Kehadiran fasilitas manufaktur sendiri diharapkan memperkuat kemampuan perusahaan untuk melayani segmen proyek dalam skala yang lebih besar.

Bagi JBS Perkasa, kebutuhan developer bukan sekadar mendapatkan produk.

Ada empat hal yang semakin penting, yaitu kualitas, ketersediaan barang, pelayanan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan proyek.

“Kami melihat kebutuhan pasar bukan hanya pada produknya, tetapi juga kepastian kualitas, ketersediaan barang, pelayanan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan proyek. Melalui penguatan manufacturing dan jaringan yang kami miliki, kami ingin semakin siap menjadi partner bagi developer dalam menghadirkan hunian berkualitas di Indonesia.”

FORTRESS tidak hanya menghadirkan pintu baja, tetapi juga merambah teknologi keamanan melalui FORTRESS Smart Lock dan sektor interior melalui MEVVAH Wall Panel.

Arah pengembangan bisnis pun mulai diarahkan menuju konsep Integrated Home & Building Solution.

Jaringan distribusi perusahaan juga terus diperluas melalui showroom resmi di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Momentum 23 tahun perusahaan pada 23 Agustus 2026 menjadi titik untuk menegaskan kembali arah pertumbuhan tersebut.

MoU dengan Pengembang Indonesia, Perkuat Kolaborasi Properti

Tidak hanya membangun pabrik, JBS Perkasa juga memperkuat hubungan dengan pelaku industri properti nasional.

Pada 31 Agustus 2026, jajaran Pengembang Indonesia (PI) mengunjungi FORTRESS HQ. Dalam kesempatan tersebut, FORTRESS dan Pengembang Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah memperkuat sinergi antara produsen building material dan jaringan developer di Indonesia.

Penandatanganan dilakukan oleh Hens Sumarauw selaku National Sales Director PT Jaya Bersama Saputra Perkasa bersama Ir. H. Barkah Hidayat, Ketua Umum DPP Pengembang Indonesia.

Kegiatan tersebut turut disaksikan jajaran manajemen perusahaan dan perwakilan Pengembang Indonesia.

Sebagai simbol apresiasi dan semangat kolaborasi, JBS Perkasa juga menyerahkan plakat kepada Pengembang Indonesia. Penyerahan dilakukan oleh Mike Latuwael, S.H., Legal Manager PT Jaya Bersama Saputra Perkasa, dan diterima oleh M. Hidayat, Sekretaris Jenderal DPP Pengembang Indonesia.

Bagi kedua pihak, MoU tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi berkembang menjadi kolaborasi konkret untuk mendukung penyediaan hunian yang aman dan berkualitas.

Dorong Kandungan Lokal, Bahan Baku Masih Bertahap

Meski membawa semangat produksi dalam negeri, JBS Perkasa menyadari perjalanan menuju manufaktur dengan kandungan lokal yang lebih tinggi masih membutuhkan proses.

Untuk tahap awal, khususnya pelat baja dengan teknologi pre-coating, perusahaan masih mengandalkan impor. Material tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan lapisan dan warna tertentu sebelum masuk ke proses produksi pintu.

Di sisi lain, sejumlah bahan baku lain telah diperoleh dari pemasok dalam negeri.

Perusahaan pun terus mencari peluang agar material yang saat ini masih diimpor dapat secara bertahap dipenuhi dari Indonesia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kandungan lokal sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.

Kaizen dan “Produksi untuk Negeri”

Vice President PT Jaya Bersama Saputra Perkasa, Sylvia Tina, mengatakan pengembangan manufaktur juga tidak terlepas dari budaya Kaizen yang diterapkan perusahaan, sebuah filosofi perbaikan berkelanjutan dalam proses bisnis.

Bagi perusahaan, membangun fasilitas produksi di dalam negeri merupakan salah satu bentuk nyata dari perbaikan tersebut.

“Kita cinta negeri ini, maka mari kita realisasikan untuk negeri ini, produksinya di dalam negeri juga.”

Semangat tersebut menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan Indonesia terhadap pembangunan hunian yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga aman, kuat, tahan lama, dan memiliki kualitas yang baik.

Selain memperkuat manufacturing, perusahaan akan terus mendorong business expansion, product innovation, people development, dan industry collaboration sebagai empat fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Joni menegaskan, perjalanan perusahaan selama lebih dari dua dekade memberikan satu pelajaran penting, yaitu pertumbuhan tidak dapat dibangun sendirian.

“Perjalanan 23 tahun membuat kami semakin percaya bahwa perusahaan tidak bisa bertumbuh sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan developer, asosiasi, pemerintah, partner, konsumen, dan tentunya seluruh tim kami. Harapannya, apa yang sedang kami bangun hari ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi industri dan bagi pembangunan hunian Indonesia ke depan.”

Karena itu, JBS Perkasa terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai asosiasi developer, pelaku industri properti, serta pemangku kepentingan terkait.

Hubungan dengan Pengembang Indonesia, REI, APERSI, dan berbagai stakeholder industri menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas kontribusinya terhadap sektor perumahan nasional.

Perusahaan juga menyambut positif berbagai langkah pemerintah dalam mendorong pembangunan dan penyediaan hunian bagi masyarakat.

JBS Perkasa menyatakan terbuka untuk terus berdialog dan berkolaborasi agar produk building material dalam negeri, termasuk pintu baja, dapat memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pembangunan perumahan nasional—dengan tetap memperhatikan kualitas, kebutuhan developer, dan keterjangkauan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, pembangunan FORTRESS MFG bukan hanya tentang sebuah pabrik baru di Tangerang.

Di balik investasi Rp50 miliar tersebut terdapat ambisi yang lebih besar, mengubah posisi perusahaan dari sekadar pemain building material dan distributor menjadi produsen dengan kemampuan manufaktur yang semakin kuat.

Dan di usia ke-23, FORTRESS tampaknya sedang menyiapkan satu babak baru, membangun pintu baja dari Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *