Saat AI Google Jadi “Partner Kreatif” Para Desainer Lokal

Athome.id — Dunia mode Indonesia memasuki babak baru. Bukan hanya soal kain, jarum, pola, dan tangan terampil para perancang, tetapi juga bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai hadir di balik proses kreatif.

Google hari ini memperkenalkan “With Gemini, In Craft”, sebuah inisiatif yang memperlihatkan bagaimana Gemini, asisten AI Google, digunakan sebagai mitra kreatif oleh rumah mode, studio kreatif, hingga pelaku usaha di Indonesia.

Alih-alih menggantikan kreativitas manusia, Gemini ditempatkan sebagai “rekan kerja” di balik layar—membantu desainer melakukan riset, mengembangkan ide, menyusun storytelling, memvisualisasikan rancangan, hingga mendukung proses produksi dan pengembangan bisnis.

Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi dapat masuk ke industri kreatif tanpa menghilangkan unsur paling penting dalam mode Indonesia: autentisitas, keahlian kriya, dan sentuhan tangan manusia.

Dari Arsip Sejarah hingga Runway Virtual

Industri mode memiliki peran besar dalam ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Pada awal 2026, subsektor mode menyumbang 58,55 persen dari total ekspor barang kreatif Indonesia.

Mode juga menjadi salah satu subsektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, berdampingan dengan kuliner dan kriya, dari total 27,4 juta pekerja kreatif Indonesia pada 2025.

Melihat besarnya potensi tersebut, Google menggandeng tiga label mode Indonesia untuk memperlihatkan secara langsung bagaimana Gemini dapat menjadi bagian dari proses kreatif—mulai dari riset warisan budaya, storytelling multimedia, hingga produksi lintas negara.

Tiga kolaborasi tersebut menghadirkan pendekatan yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: AI digunakan untuk memperluas kemungkinan kreatif, bukan mengambil alih karya manusia.

KRATON Auguste Soesastro, AI Membuka Pintu Arsip Warisan Leluhur

Bagi desainer Auguste Soesastro, proses menciptakan busana adibusana bukan sekadar persoalan estetika. Di balik sebuah karya terdapat riset, sejarah, identitas, dan cerita yang harus dirangkai secara cermat.

Dalam kolaborasi ini, Auguste memanfaatkan Gemini Deep Research sebagai mitra riset untuk merancang koleksi bespoke couture khusus bagi Kenya Kamalashila Soekarno, putri seniman Enrico Soekarno.

Gemini digunakan untuk membantu mengakses arsip internasional yang sebelumnya sulit dijangkau, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, hingga memverifikasi silsilah antargenerasi yang tersebar di enam wilayah leluhur.

Hasilnya bukan sekadar busana, tetapi karya yang dilengkapi dengan catatan narasi terstruktur dan bibliografi riset yang komprehensif.

Di sini, AI berfungsi seperti pintu menuju perpustakaan digital raksasa, sementara interpretasi budaya dan keputusan artistiknya tetap berada di tangan sang desainer.

Stella Rissa Bawa Karakter Lukisan ke Dunia 3D

Eksperimen berbeda dilakukan Stella Rissa melalui label STELLARISSA.

Berawal dari karakter hasil lukisan tangan bernama Starlet, Stella menggunakan Gemini untuk mengembangkan karakter tersebut menjadi sebuah dunia kreatif yang lebih luas.

Dengan bantuan visualisasi karakter 360 derajat dan teknologi virtual runway fitting, Starlet tidak lagi berhenti sebagai gambar di atas kanvas.

Karakter tersebut dikembangkan menuju berbagai kemungkinan, mulai dari rencana serial animasi podcast hingga koleksi figur seni fisik 3D.

Menariknya, teknologi tidak menghilangkan karakter handmade dari karya Stella. Justru sebaliknya, AI digunakan untuk memperluas dunia yang sebelumnya sudah diciptakan melalui sentuhan artistik manusia.

Dari sebuah lukisan, lahir peluang sebuah ekosistem intellectual property (IP).

TWO STITCHES: Dari Jakarta, Bali, hingga Berlin dalam Satu Studio Digital

Sementara itu, TWO STITCHES yang digawangi Andy Tan dan Jerome Kurnia memanfaatkan Gemini untuk menjawab tantangan yang lebih dekat dengan realitas bisnis fashion global: bagaimana mengelola studio yang tersebar di berbagai kota dan mempercepat proses produksi.

Dalam pengembangan koleksi terbaru mereka, “MRTYNY”, tim TWO STITCHES yang berada di Jakarta, Bali, dan Berlin memanfaatkan Gemini untuk menjembatani proses desain dan bisnis.

Sketsa konseptual dapat dikembangkan menjadi simulasi jatuh kain 3D dan virtual fitting pada model digital. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan sampel fisik dapat dipangkas menjadi hitungan hari.

Teknologi tersebut kemudian dipadukan dengan analisis pasar prediktif dan tolok ukur harga.

Bagi TWO STITCHES, pendekatan ini bukan semata-mata soal kecepatan. Mereka ingin membangun model “data-informed craft”, yakni memanfaatkan data untuk membuat keputusan produksi yang lebih tepat sekaligus mengurangi risiko pemborosan akibat produksi berlebih.

Ketika AI Tak Lagi Sekadar Alat, tetapi Rekan Kreatif

Menurut Veronica Utami, Country  Director Google Indonesia, kolaborasi ini menunjukkan bahwa teknologi justru dapat mencapai potensi terbaiknya ketika digunakan untuk memberdayakan imajinasi manusia.

With Gemini, In Craft membuktikan sebuah kebenaran mendasar dimana teknologi mencapai potensi terbaiknya ketika memberdayakan imajinasi manusia.”

Veronica mengatakan Gemini dirancang untuk menjadi mitra yang personal, proaktif, dan andal dalam alur kerja kreatif—mulai dari menyederhanakan riset yang kompleks, mengubah sketsa menjadi berbagai format multimedia, hingga membuka peluang pertumbuhan komersial.

Google juga menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan kreator lokal, mendukung usaha kecil, serta merayakan kekayaan warisan budaya Indonesia.

Indonesia dan Ledakan Kreativitas Berbasis AI

Eksperimen di industri mode tersebut hadir di tengah meningkatnya penggunaan AI generatif di Indonesia.

Indonesia kini disebut masuk lima besar dunia dalam penggunaan Gemini. Bahkan, sekitar satu dari dua prompt di Indonesia bersifat multimodal, yaitu menggabungkan teks dengan gambar atau video.

Skala penggunaannya juga sangat besar. Pengguna di Indonesia menghasilkan hampir 9 juta gambar melalui aplikasi Gemini setiap hari, angka yang disebut menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Data tersebut memperlihatkan perubahan perilaku yang signifikan: AI tidak lagi hanya digunakan untuk mencari jawaban, tetapi semakin banyak dimanfaatkan untuk menciptakan sesuatu.

Teknologi di Belakang Layar, Manusia di Tengah Panggung

Masuknya AI ke industri mode mungkin akan mengubah cara sebuah karya diriset, dirancang, divisualisasikan, diproduksi, hingga dipasarkan.

Namun, kolaborasi Google dengan Auguste Soesastro, Stella Rissa, serta TWO STITCHES memperlihatkan satu hal penting: masa depan industri kreatif tidak harus menjadi pertarungan antara manusia dan mesin.

Sebaliknya, AI dapat mengambil peran sebagai penguat kreativitas—mengurus pekerjaan yang memakan waktu, membuka akses terhadap informasi dan visualisasi baru, serta membantu kreator menguji lebih banyak kemungkinan.

Sementara itu, keputusan mengenai cerita apa yang ingin disampaikan, identitas apa yang ingin dibawa, dan karya seperti apa yang ingin dilahirkan tetap berada di tangan manusia.

Pada akhirnya, teknologi mungkin dapat mempercepat proses kreatif. Tetapi jiwa sebuah karya tetap lahir dari manusia yang menciptakannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *