Athome.id – Rumah kini bukan sekadar tempat untuk pulang dan beristirahat. Bagi banyak keluarga di Asia, rumah juga menjadi kantor, ruang belajar anak, tempat berkumpul bersama keluarga, sekaligus ruang untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas seharian. Menariknya, semua fungsi tersebut bisa berlangsung di ruangan yang sama, hanya pada waktu yang berbeda.
Perubahan gaya hidup ini turut mendorong cara baru masyarakat memandang hunian. Teknologi rumah pintar atau connected home tak lagi hanya soal perangkat canggih yang saling terhubung, tetapi juga bagaimana teknologi dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih praktis, nyaman, dan sesuai kebutuhan.
Di tengah perubahan tersebut, pencahayaan menjadi salah satu elemen yang berperan penting. Lewat pengaturan warna, intensitas, hingga otomatisasi lampu, penghuni dapat mengubah suasana ruangan tanpa harus mengubah tata letak atau menambah banyak perangkat.
Pandangan ini mengemuka dalam diskusi panel konsumen bertajuk “Asia’s Changing Lifestyles and the Connected Home: How Lighting Is Redefining Home – What’s Next for Asia?” yang digelar Signify di Singapura. Diskusi tersebut menghadirkan As Tempelman, CEO Signify, dan Chandra Vaidyanathan, EVP Consumer Business Emerging Markets sekaligus Managing Director Singapore.
Satu Rumah, Banyak Aktivitas
Di banyak rumah tangga Asia, satu ruangan harus mampu menjalankan beragam fungsi. Ruang keluarga, misalnya, bisa berubah menjadi area bekerja pada pagi hari, tempat anak mengerjakan tugas pada siang hari, hingga ruang berkumpul lintas generasi pada sore hari.
Kondisi ini membuat fleksibilitas menjadi kebutuhan penting dalam hunian modern. Apalagi, tidak semua keluarga memiliki ruang yang luas untuk memisahkan setiap aktivitas ke dalam ruangan tersendiri.
Data Pew Research Center yang dikutip dalam materi Signify menunjukkan bahwa lebih dari empat dari sepuluh orang di Asia Pasifik tinggal bersama keluarga besar. Sementara itu, studi Reeracoen × Rakuten Insight mencatat 72% pekerja di Asia Pasifik memilih sistem kerja hybrid, meskipun baru 46% yang telah mendapatkannya.
Kedua tren tersebut menggambarkan kebutuhan akan rumah yang mampu beradaptasi dengan aktivitas penghuninya. Kenyamanan pun tidak selalu harus diwujudkan melalui renovasi besar-besaran. Penyesuaian sederhana, termasuk pengaturan pencahayaan, dapat membantu menciptakan suasana yang berbeda sesuai kebutuhan.
CEO Signify As Tempelman menegaskan bahwa perkembangan connected home seharusnya berangkat dari kehidupan manusia, bukan semata-mata dari kecanggihan teknologi.
“Kita sering membicarakan connected home sebagai cerita tentang teknologi. Namun, saya meyakini bahwa connected home adalah cerita tentang manusia serta bagaimana kehidupan dan ekspektasi mereka terhadap rumah terus berkembang,” ujar As Tempelman.
Menurutnya, pencahayaan memiliki posisi unik karena hadir di hampir setiap ruangan dan menemani berbagai aktivitas sepanjang hari. Pengaturan cahaya dapat membantu menciptakan suasana yang mendukung konsentrasi saat bekerja, menghadirkan kenyamanan ketika berkumpul bersama keluarga, hingga membantu penghuni menikmati waktu istirahat.
Mengubah Suasana Rumah Tak Harus Renovasi
Bayangkan sebuah ruang keluarga yang pada pagi hari digunakan untuk bekerja. Cahaya dapat diatur agar terasa nyaman untuk mendukung aktivitas tersebut. Ketika sore tiba, suasananya bisa diubah menjadi lebih hangat untuk menemani waktu bersama keluarga. Pada malam hari, intensitas cahaya dapat disesuaikan untuk menciptakan atmosfer yang lebih santai.
Inilah salah satu keunggulan smart lighting atau pencahayaan pintar. Pengguna tidak perlu mengganti lampu setiap kali kebutuhan berubah. Cukup melalui pengaturan yang tersedia, suasana ruangan dapat disesuaikan dengan aktivitas yang sedang berlangsung.
Tren ini sejalan dengan keinginan konsumen terhadap teknologi yang intuitif dan mudah digunakan. Masyarakat semakin membutuhkan solusi yang mampu menyatu dengan rutinitas sehari-hari, tanpa membuat mereka harus mengelola terlalu banyak perangkat maupun aplikasi.
Dari kunjungan langsung ke rumah konsumen di berbagai negara ASEAN, Signify melihat bahwa banyak orang masih belum mengetahui langkah awal untuk membangun hunian pintar. Ketertarikan terhadap teknologi biasanya muncul ketika ada perubahan besar dalam kehidupan, seperti pindah rumah, merenovasi hunian, atau mulai membangun keluarga.
Dalam situasi tersebut, pencahayaan menjadi pilihan awal yang relatif familiar dan mudah diterapkan. Solusi ini juga relevan bagi penghuni rumah sewa maupun mereka yang tinggal di hunian berukuran compact.
Dari Thailand hingga Malaysia, Kebutuhan Smart Home Berbeda-beda
Meski tren connected home berkembang di kawasan yang sama, kebutuhan konsumen Asia Tenggara ternyata tidak seragam.
Berdasarkan kunjungan ke rumah konsumen, Signify menemukan bahwa masyarakat Thailand cenderung membutuhkan pencahayaan yang dapat terhubung dengan fitur smart home lain yang telah terpasang. Sementara itu, di Malaysia, kemudahan mengatur atau mematikan lampu tanpa harus beranjak dari tempat tidur menjadi salah satu manfaat yang dirasakan langsung.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa teknologi rumah pintar tidak cukup hanya menawarkan banyak fitur. Solusinya juga perlu menjawab kebutuhan nyata penghuni, mulai dari kemudahan penggunaan hingga kemampuannya beradaptasi dengan sistem yang sudah tersedia.
Dengan kata lain, teknologi yang paling relevan bukan selalu yang paling rumit, melainkan yang paling mudah digunakan untuk membuat rutinitas sehari-hari lebih praktis.
Di Indonesia, Smart Lighting Mulai Dilirik untuk Kenyamanan Keluarga
Tren serupa juga terlihat di Indonesia. Signify menemukan bahwa banyak keluarga memandang pencahayaan sebagai salah satu elemen yang dapat menunjang kenyamanan di rumah, termasuk di kamar anak dan area bersantai.
Seiring teknologi pintar semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari, minat konsumen pun mulai bergeser dari pencahayaan konvensional menuju smart lighting.
Pergeseran ini membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan pencahayaan secara lebih fleksibel. Lampu tidak lagi hanya berfungsi menerangi ruangan, tetapi juga dapat diatur sesuai kebiasaan dan kebutuhan penghuni.
Melalui smart lighting, pengguna dapat menyalakan atau mematikan lampu secara otomatis, mengatur tingkat kecerahan, hingga mengubah warna cahaya. Pengoperasiannya pun dapat dilakukan melalui smartphone, remote control, maupun voice assistant, bergantung pada fitur produk yang digunakan.
Pasar global turut menunjukkan potensi pertumbuhan yang besar. Berdasarkan proyeksi yang dikutip dalam materi Signify, pasar smart lighting diperkirakan meningkat dari USD 27,98 miliar pada 2025 menjadi USD 173,21 miliar pada 2034. Pertumbuhan tersebut mengindikasikan besarnya peluang pencahayaan pintar seiring meningkatnya minat terhadap teknologi rumah terhubung.
Meski demikian, adopsi di Indonesia tetap akan bergantung pada kebutuhan konsumen, kemudahan penggunaan, harga, serta kesesuaian produk dengan kondisi hunian masing-masing.
Philips Smart Lighting Hadirkan Pilihan untuk Kebutuhan Berbeda
Untuk menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam, Signify menghadirkan rangkaian Philips Smart Lighting. Portofolio ini mencakup berbagai pilihan produk, mulai dari smart bulb, downlight, light strip, light bar, hingga smart spotlight.
Pilihan tersebut memungkinkan konsumen menyesuaikan solusi pencahayaan dengan karakter ruangan dan aktivitas yang ingin didukung. Penghuni bisa memulai dari satu titik pencahayaan, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan tanpa harus langsung mengubah seluruh sistem lampu di rumah.
President Director Signify Commercial Indonesia Dedy Bagus Pramono mengatakan bahwa kemudahan penggunaan menjadi salah satu fokus dalam pengembangan produk tersebut.
“Philips Smart Lighting telah dirancang agar mudah digunakan, intuitif, dan memahami kebiasaan pengguna. Philips Smart Lighting juga hadir dengan berbagai pilihan produk, mulai dari smart bulb, downlight, light strip, light bar, hingga smart spotlight, untuk menjawab kebutuhan konsumen yang beragam,” ujar Dedy.
Ia menambahkan bahwa rangkaian produk tersebut dirancang untuk membantu membuat rutinitas di rumah menjadi lebih nyaman dan lancar.
Masa Depan Rumah Pintar Dimulai dari Kebutuhan Penghuninya
Perkembangan connected home di Asia memperlihatkan bahwa hunian masa depan tidak harus dipenuhi perangkat canggih untuk terasa lebih pintar. Justru, teknologi yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan penghuni berpotensi menjadi bagian paling relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Pencahayaan menjadi salah satu pintu masuk untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan pengaturan yang tepat, satu ruangan dapat mendukung berbagai aktivitas tanpa kehilangan kenyamanan.
Pada akhirnya, rumah pintar bukan semata-mata tentang seberapa banyak perangkat yang terhubung, melainkan seberapa jauh teknologi mampu memahami kebiasaan penghuninya. Dan terkadang, perubahan itu bisa dimulai dari hal sederhana, mengatur cahaya agar rumah terasa lebih sesuai dengan kehidupan di dalamnya.














Leave a Reply