Foto: Yudi DH

Masih ingat dengan Kare? Beberapa tahun lalu mereka pernah punya showroom yang cukup besar di Senayan City, Jakarta, sebelum akhirnya tutup. Perusahaan yang berpusat di Jerman ini dikenal punya koleksi furnitur dan aksesoris interior yang khas – menyenangkan, unik, ceria, pop, tidak membosankan, berani, dan provokatif. Beruntung kami pernah singgah di salah satu proyek paling seru mereka. Sebuah Apartemen seluas 400 meter persegi di pusat kota Jakarta.

Apartemen ini dirancang dari keadaannya semula yang berupa ruang kosong dengan dinding dan langit-langit beton. Kondisi ini membuat pemiliknya merasa lebih bebas dalam merancang tata letak ruang yang sesuai kebutuhan. Mereka ibarat mendapat kanvas kosong yang kemudian benar-benar, seperti kita lihat, mereka manfaatkan dengan baik.

Zoning pembagian ruangnya jelas. Satu ruang luas di tengah yang menjadi area publik keluarga mencakup fungsi living room, ruang makan, serta dapur, dengan kitchen island-nya yang biasa menjadi area sarapan. Sofa berbentuk L berukuran besar masih belum membuat living room ini terlihat sempit. Ruang tengah memang dirancang lega seperti ini karena ada dua anak kecil tinggal di sini. Mereka juga punya ruang bermain di salah satu sudut ruang tengah. Bisa kita bayangkan bagaimana menariknya warna dan bentuk aksesoris-aksesoris Kare bagi anak-anak. Namun hal itu tidak merisaukan orang tua mereka yang memilih mengutamakan kebebasan bermain sang anak. Mengganti barang yang pecah tersenggol atau penutup sofa yang terkena coretan bukan hal besar.

Zona privat mengumpulkan kamar-kamar tidur dan kamar mandi dalam satu area. Ada satu kamar tidur utama dan dua kamar anak. Dan ternyata ayunan justru berada di kamar para orang tua. Mungkin karena anak-anak mereka bisa puas bermain ayunan di sekolah, sementara ayah dan ibu tidak punya fasilitas itu di kantornya. Terdengar cukup adil.

Anak-anak diajarkan untuk tahu apa yang mereka mau dan mengungkapkannya. Kamar tidur keduanya dirancang sesuai selera mereka masing-masing. Warna favorit menjadi cara mereka menunjukkan identitasnya. Si kecil memilih nuansa warna biru yang dominan. Sementara sang kakak, penyuka warna ungu, memilih menampilkannya sebagai aksen. Lihat artikel dan foto lainnya di sini.

 

Naskah: Donny Amrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.