Athome.id – Dalam dunia arsitektur, buku biasanya menjadi wadah untuk berbagi ilmu, menampilkan karya, atau mendokumentasikan proses kreatif dalam bentuk visual dan teknis. Namun, arsitek Ren Katili memilih jalur yang berbeda. Ia melangkah keluar dari garis lurus kebiasaan dengan melahirkan sebuah novel berjudul Bukan Garis Lurus — sebuah karya sastra yang justru lahir dari renungan dan perjalanan batinnya sebagai arsitek.

“Kalau bercanda, saya bilang ini cara saya merengkuh midlife crisis,” ujar Ren sambil tersenyum. Tapi di balik gurauan itu, tersimpan semangat tulus untuk mengapresiasi kehidupan, perubahan, dan segala hal yang membentuk dirinya. Novel ini, yang disingkat menjadi BUGARU, adalah bentuk ekspresi dari pergulatan dan pertumbuhan pribadi seorang arsitek yang menemukan makna hidupnya lewat cerita.

Novel sebagai Arsitektur Jiwa

Alih-alih menyusun batu dan beton, kali ini Ren merangkai kata dan emosi. Ia mengaku banyak terinspirasi dari buku hariannya sendiri — potongan waktu dan perasaan yang kemudian ia olah menjadi kisah fiksi yang lebih dalam dan menyentuh.

“Cerita ini memang berangkat dari tahapan kehidupan saya. Tapi tentu ada pergeseran, perubahan, dan elemen fiksi agar kisahnya lebih hidup dan menarik,” jelas Ren saat peluncuran BUGARU, pada Rabu (5/11) lalu, di Societe, Sarinah, Jakarta.

Selama ini Ren dikenal sebagai pendiri Studio Arsitektropis bersama rekannya Albertus Prawata, biro arsitektur yang sering menonjolkan hubungan manusia dengan alam. Namun melalui novel ini, ia menghadirkan arsitektur dari sisi yang lebih personal, arsitektur jiwa.

Dukungan dari Komunitas Kreatif

Proses penerbitan BUGARU dipercayakan kepada Omah Library, yang dikenal aktif mendukung karya-karya lintas disiplin di dunia arsitektur.

“Meski berbentuk novel, karya ini punya kedalaman yang relevan bagi para arsitek. Ia menunjukkan bahwa kreativitas tidak terbatas pada gambar dan bangunan saja,” ujar Realrich Syarief, Principal Omah Library.

Novel ini juga menjadi titik awal lahirnya jenama BUGARU, yang berkembang menjadi wadah eksplorasi gaya hidup. Bersamaan dengan peluncuran novelnya, Ren memperkenalkan lini produk yang terinspirasi dari kisah dalam buku tersebut — mulai dari parfum bertema kota-kota dalam cerita, hingga tote bag kulit berdesain khas yang mencerminkan karakter utama novelnya.

Emosi di Balik Proses Kreatif

Editor BUGARU, Dyah Sunthy, mengaku bahwa proses penyuntingan buku ini bukan sekadar pekerjaan teknis.
“Menjaga jarak dengan naskah ini sangat sulit. Ada bagian yang membuat saya menangis. Kata-kata Ren begitu jujur hingga emosi pembaca tak bisa menahan diri,” ungkap wanita yang akrab disapa Sunthy.

Sementara itu, Tommy A. Siagian, sang ilustrator sampul, memuji keputusan Ren yang menolak menggunakan kecerdasan buatan untuk desain cover novelnya.
Ren punya pemikiran konseptual yang kuat. Ilustrasi ini lahir dari proses kreatif yang sangat manusiawi dan personal,” ujarnya.

Surat Cinta untuk Kehidupan

Dalam BUGARU, Ren menulis kisah tentang perjalanan seorang arsitek yang berjuang dari bawah, menghadapi cinta dan kehilangan, hingga akhirnya menemukan arti kasih dalam segala bentuknya. Semua itu adalah cerminan hidup yang, menurut Ren, “sama sekali bukan garis lurus.”

Novel ini menjadi lebih dari sekadar karya sastra, ia adalah surat cinta kepada kehidupan, kepada proses, dan kepada seni untuk terus tumbuh dalam ketidakteraturan yang indah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *