Foto: Dok. Arno/ @arnophotosantosa

“Save the best for last. Kalimat tersebut sangat sesuai untuk vila ini. Letaknya di akhir sebuah jalan, sekaligus di ujung tebing. Bahkan sebagian bangunannya menggantung di atas tebing dan sungai di bawahnya.”

Di atas kertas, lahan ini terkesan besar, 700 meter persegi. Namun pada kenyataannya, sebagian besar berupa lereng batu yang terjal ke arah sungai. Jadi hanya sebagian kecil yang bisa dibangun. Terdengar seperti masalah besar, namun tidak bagi seorang arsitek. “Kita harus pandai melihat potensi lahan. Dengan bantuan teknis konstruksi, lahan yang tidak punya value bisa kita sulap menjadi properti yang bernilai bisnis serta hunian yang  nyaman. Kita bisa memanfaatkan potensi view dan ornamen yang sudah disediakan alam dan budaya di Bali. Misalnya Pura di seberang sungai itu. Sangat menarik untuk kita jadikan objek desain arsitektur yang menjadi focal view, ” jelas Alec, arsitek yang merancang dan juga pemilik vila ini.

Alec memadukan arsitektur modern dengan tampilan finishing yang serba rustic. Ia banyak menggunakan kayu ulin bekas yang memang terlihat tua dan arstistik. Menurutnya, kayu seperti ini lebih terlihat organik dan alami sehingga terkesan menyatu dengan alam. “Saya tidak mau membuat desain yang berlebihan dan berkesan arogan. Bali itu identik dengan alam. Jadi jika mendesain sesuatu yang kontras dengan alam kok kesannya egois,” jelas arsitek yang puluhan karyanya tersebar di Bali. Itu sebabnya ia membungkus beberapa kolom baja dengan kayu ulin bekas.

Furnitur-furnitur modern yang dipakai Alec membuat kombinasi yang unik pada interior. Sebagian orang menyebutnya eklektik. Mata saya terus menjelajah menikmati detail-detail yang Alec tampilkan. Dan saya menemukan plafonnya dibuat dari gedek (anyaman bambu) yang biasa menjadi dinding pada rumah-rumah tradisional di pedesaan. Alec tertawa. Ternyata ia mencetak betonnya dengan gedek untuk mendapatkan pola dan teksturnya saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.