Athome.id – Banyak orang merasa rumahnya makin sempit, sesak, dan berantakan seiring bertambahnya barang. Akibatnya, solusi instan seperti membeli kotak tambahan, rak baru, atau tempat penyimpanan ekstra sering jadi jalan keluar utama. Padahal, masalah sebenarnya belum tentu ada pada jumlah barang yang dimiliki.

Menurut IKEA Indonesia, akar persoalannya justru sering datang dari cara memilih solusi penyimpanan yang kurang tepat sejak awal. Banyak orang fokus mencari solusi tercepat, bukan solusi yang benar-benar sesuai kebutuhan rumah mereka.

“Banyak rumah sebenarnya tidak kecil dan punya cukup ruang, tapi terasa penuh karena sistem penyimpanannya tidak konsisten. Barang akhirnya tidak pernah benar-benar punya tempat, hanya berpindah-pindah,” jelas Ruth Pricilla Pandjaitan, Home Furnishing & Competence Development Leader IKEA Indonesia.

Lewat pengamatan dalam program Home Visit IKEA, pola ini disebut terus berulang di banyak rumah tangga Indonesia. Saat area terasa berantakan, solusi yang diambil biasanya hanya menambah tempat penyimpanan baru tanpa mengevaluasi isi dan fungsi ruang secara menyeluruh.

Bukan Tambah Rak, Tapi Mulai dari Cara Mengatur

IKEA pun mengajak masyarakat untuk mulai melihat kembali kebiasaan kecil dalam menata rumah. Sebab, rumah yang terasa lega bukan selalu soal mengurangi barang besar-besaran, melainkan tentang memilih sistem yang tepat sejak awal.

Berikut beberapa cara praktis yang bisa langsung diterapkan agar rumah terasa lebih rapi, lega, dan nyaman digunakan sehari-hari.

1. Cek Isi Rumah Dulu, Jangan Langsung Tambah Penyimpanan

Saat rumah terasa penuh, kebanyakan orang langsung membeli storage tambahan. Padahal, volumenya tetap sama — hanya berpindah tempat.

Langkah pertama yang lebih efektif adalah memilah barang berdasarkan frekuensi penggunaan. Dari situ biasanya akan terlihat mana barang yang benar-benar dipakai dan mana yang hanya “menumpang tempat”.

Untuk membantu penataan, organizer seperti seri STUK dan SKUBB bisa digunakan untuk pakaian agar lebih rapi dan mudah diakses. Sementara aksesori kecil dapat disimpan menggunakan NOJIG, PLOGSVÄNG, atau KACKLA agar tidak tercecer dan mudah ditemukan.

Ketika barang punya susunan yang jelas, rumah otomatis terasa lebih tertata tanpa harus terus membeli solusi baru.

2. Bedakan Barang Pajangan dan Barang Simpanan

Salah satu penyebab rumah cepat terlihat penuh adalah semua barang diletakkan dalam satu area tanpa pembagian yang jelas. Barang koleksi, barang harian, hingga stok cadangan sering bercampur di tempat yang sama.

Akibatnya, area jadi cepat terlihat “ramai” dan sulit digunakan secara nyaman.

Rak terbuka seperti KALLAX atau BILLY cocok digunakan untuk barang yang memang ingin dipajang atau sering diakses. Sementara barang lain bisa disimpan menggunakan kotak seperti DRÖNA atau KUGGIS agar visual ruangan tetap rapi dan tidak terasa sesak.

“Secara visual, ruang bisa terlihat rapi, tapi tetap terasa penuh karena terlalu banyak yang terlihat di saat bersamaan,” ujar Alfinda Kristra Rahardyana, Interior Design Leader IKEA Indonesia.

Menurutnya, desain yang baik seharusnya mengurangi kebutuhan untuk terus memindahkan, menyembunyikan, atau menata ulang barang setiap hari.

3. Jangan Pilih Ukuran yang ‘Kayaknya Muat’

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memilih ukuran perabot yang “mendekati pas”. Akibatnya, barang sulit tersusun rapi, ada yang tidak muat, lalu akhirnya ditumpuk begitu saja.

Kebiasaan kecil ini lama-lama menciptakan lapisan clutter baru yang membuat rumah terasa makin padat.

Karena itu, memilih ukuran penyimpanan yang benar-benar sesuai sangat penting. Kotak dengan dimensi konsisten atau organizer yang dirancang mengikuti ukuran lemari akan membuat sistem penyimpanan bekerja lebih optimal dan lebih mudah dirawat dalam jangka panjang.

4. Gunakan Metode Zoning agar Rumah Lebih Teratur

Metode zoning bisa membantu rumah terasa lebih efisien dan nyaman digunakan. Caranya dengan membagi area berdasarkan aktivitas tertentu.

Misalnya:

  • Area “siap berangkat” dekat pintu untuk menyimpan tas, kunci, dan sepatu.
  • Sudut “wind down” di kamar untuk buku, skincare, atau barang yang dipakai sebelum tidur.

Dengan cara ini, barang punya konteks penggunaan yang jelas dan tidak mudah berpindah-pindah ke area lain.

Zoning juga membantu mengurangi kebiasaan menaruh barang sembarangan yang sering jadi awal munculnya clutter di rumah.

5. Jangan Takut Menyisakan Ruang Kosong

Tidak semua sudut rumah harus diisi barang. Justru ketika semua area penuh, rumah akan terasa lebih sesak dan sulit dirawat.

IKEA menyarankan untuk rutin melakukan decluttering agar lebih mudah melihat mana barang yang masih relevan dan mana yang sebenarnya sudah tidak digunakan.

Barang yang sudah tidak diperlukan bisa disimpan terpisah, dijual kembali sebagai preloved item, atau diberikan kepada orang lain agar tetap bermanfaat.

Saat isi rumah benar-benar terdiri dari barang yang digunakan, ruangan akan terasa jauh lebih lega, ringan, dan nyaman dipakai sehari-hari.

Rumah Nyaman Dimulai dari Pilihan yang Tepat

Melalui kampanye “Ga Perlu Main Petak Umpet Lagi”, IKEA ingin mengajak masyarakat memahami bahwa rumah yang rapi bukan soal terus menambah solusi, melainkan tentang membuat keputusan yang lebih tepat sejak awal.

“Ketika kita berhenti merespons semua hal dengan ‘cukup dulu’, ruang akan mulai berfungsi lebih konsisten. Kalau dari awal sudah sesuai kebutuhan, kita tidak perlu terus menyesuaikan,” tutup Alfinda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *