Indra Iskandar : Dari Istana ke Senayan

  • Home
  • Tokoh
  • Indra Iskandar : Dari Istana ke Senayan

Foto: Yud DH

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, karier Indra Iskandar sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) berlabuh di sebuah lembaga negara DPR RI sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Mengutip filosofi hidupnya, bahwa proses kehidupan adalah sebuah ikhtiar, sementara takdir adalah kepastian. Begitu pun demikian, jabatan Sekjen yang diemban sejak Mei 2018 adalah takdir yang harus dijalaninya dengan baik.

Indra muda sejak dibangku sekolah menengah dikenal sebagai anak yang aktif, gemar berorganisasi, dan mudah bergaul. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler menjadi ‘santapannya’ di sela-sela rutinitas sebagai pelajar, Indra menyisihkan waktunya untuk berorganisasi. Hobinya berkumpul dan nongkrong dengan teman-teman sebaya menjadikan dirinya mengenal banyak karakter. Pengalaman lapangan yang berharga, meski harus punya benteng yang kuat agar tidak terjerumus pada hal negatif.

Inilah ruang rapat Indra di ruang kerjanya di gedung Sekretaris Jenderal.

Selepas bangku SMA, Indra memilih jurusan yang lebih banyak laki-laki di kampusnya. “Saya kalau di kampus banyak pria, merasa lebih ‘laki’. Selain itu, laki-laki identik dengan anak-anak muda yang kongkow, suka ngumpul, santai, urakan. Jadi bukan karena jurusan yang saya suka,” kata Indra sambil tertawa. Di kampus, Indra juga ikut dalam kegiatan kemahasiswaan dan cukup aktif berorganisasi.

Selepas sarjana, Indra bekerja di sektor swasta, tidak sampai setahun, karena ikut tes menjadi pegawai negeri sipil di Kementerian Dalam Negeri untuk ditempatkan di pusat dan Pemprov DKI. Indra lolos dan diterima, dia kemudian ditempatkan di Pemprov DKI di bidang yang sesuai keilmuannya. Perjalanan Indra di DKI berpindah ke Istana Negara, saat dua seniornya, Bondan Gunawan diangkat menjadi Menteri Sekretaris Negara dan Marsilam Simanjuntak menjadi Sekretaris Kabinet pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Indra menyambut kedatangan Presiden Jokowi/Foto. Dok. Sekjen

Perpindahan Indra dari DKI ke Istana karena dua seniornya membutuhkan staf dan figur yang dikenal, serta berstatus PNS. Tujuannya untuk lebih memudahkan kinerja di Istana Negara. Seiring pergantian Presiden, Indra sempat akan balik lagi ke DKI. Namun dicegah beberapa teman dengan alasan yang bermacam-macam hingga akhirnya Indra bertahan selama 24 tahun.

Tidak lelah untuk berproses, Indra diberi tantangan oleh Presiden Joko Widodo untuk menggantikan Sekjen sebelumnya. Tantangan yang baru dimulai ini menjadi amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Indra ingin menjadikan ASN yang bekerja di Senayan memiliki kebanggaan terhadap institusinya. Apalagi ‘bos’ atau pimpinan yang harus dilayani bukan satu atau dua orang, melainkan 560 orang anggota dewan yang harus diperlakukan sama dan sederajat.

Indra juga memiliki tantangan mengelola 1.400 ASN yang ada di bawahnya dan sekitar 4.000 lebih staf ahli yang melekat di anggota dewan untuk dibantu administrasi dan kebutuhannya. Indra berkeinginan di Sekjen DPR RI ini akan membawa perubahan yang lebih baik dan maju, sehingga level pelayanan terhadap anggota dewan dan staf akan semakin baik. “Diharapkan semua kebutuhan, baik itu persidangan komisi hingga sidang paripurna dapat berjalan lancar dan baik, sehingga anggota dewan dapat bekerja tanpa kendala teknis,” tutup Indra di akhir obrolan.

Tags:
Blog Comments

[…] Baca : Indra Iskandar : Dari Istana ke Senayan […]

Leave a Comment