Athome.id – Momen peringatan Hari Gizi Nasional, PT Frisian Flag Indonesia (FFI) menekankan pentingnya pemenuhan dan pemberian akses gizi berkualitas kepada masyarakat luas, demi menyelamatkan masa depan bangsa, dimulai dari keluarga. Pada kesempatan ini, FFI menggelar sebuah webinar dengan narasumber inspiratif: Guru Besar Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat FKMUI, Prof. Dr. drg Sandra Fikawati, MPH, Pendiri Rumah Singgah Sahabat Gizi, Ir. Irawati Susalit, dan Kartini Peternak Indonesia, Rumini.

Global Nutrition Report (GNR) tahun 2020 menunjukkan Indonesia mengalami triple burden masalah gizi, yaitu kekurangan gizi mikro, kekurangan makro, dan gizi lebih. Sementara analisis Fill the Nutrient Gap (FNG) yang dirilis pada November 2021 menunjukkan bahwa setidaknya satu dari delapan orang Indonesia tidak mampu membeli makanan yang memenuhi kebutuhan gizi mereka. Artinya pemenuhan gizi berkualitas dan pemberian akses terhadap gizi baik masih menjadi tantangan yang kita hadapi bersama saat ini.

Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro menyampaikan, “Hari Gizi Nasional menjadi momentum untuk kita bersama kembali memprioritaskan pemenuhan gizi berkualitas sebagai langkah untuk membangun generasi yang lebih baik. Karena, kondisi pemenuhan gizi saat ini merupakan refleksi dari kualitas masa depan bangsa kelak. Sebagai perusahaan, FFI percaya, untuk menggerakkan sebuah bangsa, kita perlu memulai perubahan dari unit terkecil, yaitu keluarga. Memasuki 100 tahun kehadirannya di Indonesia, FFI mengajak keluarga Indonesia untuk bergerak maju bersama sesuai dengan peranan dan keahlian masing-masing, melalui peningkatan status dan pemenuhan gizi keluarga Indonesia.”

Mengusung semangat kolaborasi, pada peringatan Hari Gizi Nasional tahun ini pemerintah mengangkat tema: ‘Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas’. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menargetkan penurunan prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14 persen. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah melakukan dua intervensi holistik yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Terkait intervensi spesifik yang berkaitan dengan sektor kesehatan setelah kelahiran, Kemenkes mendorong pemberian ASI eksklusif dan kecukupan makanan pendamping ASI, utamanya protein hewani – salah satunya melalui pemberian susu .

Guru besar Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat sekaligus wakil ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesheatan (PKGK) FKMUI, Prof. Dr. drg Sandra Fikawati, MPH, menyampaikan,”Dalam upaya pencegahan dan pengendalian stunting, protein hewani mutlak dibutuhkan. Hal ini dikarenakan protein hewani memiliki kandungan asam amino esensial yang lengkap, yang berperan penting dalam proses pertumbuhan anak. Produk susu merupakan salah satu protein hewani yang dinilai paling efektif dalam menurunkan risiko stunting, dibanding jenis protein hewani lain seperti telur dan daging. Meski perlu diingat, asupan protein hewani dan jenis makanan lain yang bervariasi tetap penting untuk dipenuhi”. Ditambahkan Prof. Fika, “Sayangnya saat ini masih banyak stigma di masyarakat yang menganggap susu adalah produk mahal. Padahal sudah banyak produk susu hadir dengan harga terjangkau dan bergizi baik. Salah satu keunggulan susu dibandingkan protein hewani lain adalah bentuknya yang cair sehingga mudah diasup oleh anak dan mudah disiapkan oleh ibu karena tidak memerlukan penanganan khusus”.

Kehadiran susu sebagai salah satu asupan protein hewani bergizi baik, tentu tak bisa lepas dari peran penting dari para peternak susu sapi perah. Salah satu sosok peternak yang bukan hanya berupaya berjuang memenuhi gizi keluarganya, tapi juga keluarga Indonesia adalah Rumini, yang juga merupakan peserta program Kartini Peternak Indonesia binaan FFI. “Saya percaya, susu memiliki peran penting dalam kemajuan keluarga Indonesia. Bagi keluarga saya pribadi, selain menjadi sumber pendapatan ekonomi, susu juga menjadi sumber gizi penting yang menjadi fondasi dalam memulai hari. Inilah mengapa, meski bukan tanpa tantangan, saya terus bergerak maju untuk ambil bagian dalam pemenuhan gizi keluarga Indonesia, melalui keahlian yang saya miliki, yaitu menjadi peternak sapi perah. Saya berharap, ke depan usaha peternakan ini dapat terus berkembang, sehingga saya dapat terus memberikan gizi yang berkualitas, khususnya kebaikan susu untuk keluarga saya dan keluarga di Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, melalui beternak sapi perah, saya turut berperan dalam meningkatkan status gizi dan menekan angka stunting di Indonesia”, ungkap Rumini.

Di sisi lain, ketersediaan akses bagi produk bergizi memang masih menjadi tantangan tersendiri. Hal ini tak lepas dari kondisi ekonomi dan sosial khususnya bagi kalangan yang kurang mampu. Menanggapi kondisi ini, sejak 2016 lalu Ir. Irawati Susalit mendirikan Rumah Singgah Sahabat Gizi di wilayah Kampung Sawah, Cilincing, Jakarta Utara. ”Keterbatasan ekonomi membuat sebagian kalangan belum memprioritaskan pemenuhan gizi berkualitas bagi anak dan keluarga mereka. Hal ini tentu memicu siklus kemiskinan yang terus berulang, mengingat pemenuhan gizi menjadi fondasi dalam membangun generasi yang cerdas dan berkualitas kelak. Inilah mengapa, intervensi terkait pemenuhan gizi perlu dilakukan. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) menjadi langkah yang saya coba ambil. Saya percaya, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan akses gizi yang baik. Dimulai dengan ketersediaan pangan dan perbaikan gizi pada anak-anak dengan melibatan partisipasi langsung dari ibu-ibu sebagai penggerak perubahan, saya berharap kelak akan terbangun masyarakat yang berkualitas dan mampu menciptakan perubahan untuk diri, keluarga dan lingkungan”. Sebagai salah satu sumber asupan bergizi baik, Ibu Ira juga rutin memberikan susu kepada anak-anak binaannya, karena selain kandungan gizi dan higenitas yang terjaga, susu juga menjadi auspan untuk memperbaiki status gizi dengan cepat.

“FFI mengapresiasi setiap pihak, yang dengan caranya menjadi pahlawan kemajuan gizi, baik untuk keluarganya sendiri, maupun keluarga Indonesia lainnya. Kehadiran sosok-sosok inspiratif seperti Prof. Fika, Ibu Ira dan Rumini, menjadi oase akan perbaikan status gizi masyarakat Indonesia ke depan. Sebagai perusahaan, FFI juga berkomitmen untuk terus memperbaiki status gizi masyarakat melalui kehadiran produk bergizi berkualitas terjangkau, di antaranya melalui kehadiran FRISIAN FLAG® Kompleta dan SUSU BENDERA® – serta mendukung dan menginisiasi berbagai program perbaikan gizi bersama mitra terkait. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan, Nourishing by Nature, dengan tujuan besar mewujudkan Indonesia yang Sehat, Sejahtera dan Selaras,” pungkas Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.