Dok. Aflo

Athome.id – Di ruang kerja yang sejuk oleh pendingin udara, banyak orang merasa telah menciptakan lingkungan paling ideal untuk bekerja. Suhu nyaman, suara mesin AC yang konstan, dan layar komputer yang terus menyala menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, di balik kenyamanan itu, ada keluhan yang perlahan muncul dan kerap diabaikan seperti mata terasa sepet, perih, dan cepat lelah.

Keluhan tersebut sering dianggap wajar. Banyak orang mengira itu hanya dampak dari kurang tidur atau terlalu lama menatap layar. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda awal mata kering, sebuah kondisi yang prevalensinya terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan.

Data menunjukkan bahwa prevalensi mata kering mencapai 41% di wilayah Jabodetabek dan Bandung. Angka ini mengindikasikan bahwa hampir separuh masyarakat di kawasan urban berisiko mengalami mata kering. Ironisnya, sebagian besar tidak menyadari bahwa ketidaknyamanan yang mereka rasakan merupakan gejala medis yang perlu diperhatikan.

AC dan Gaya Hidup Modern
Salah satu faktor terdekat yang berkontribusi terhadap mata kering adalah penggunaan air conditioner (AC). Di negara tropis seperti Indonesia, AC telah menjadi bagian dari keseharian, baik di rumah, kantor, ruang kelas, maupun fasilitas umum.

AC bekerja dengan mengatur suhu dan kelembapan udara. Meski memberikan kenyamanan termal, sistem ini cenderung menurunkan kelembapan ruangan. Kondisi udara kering mempercepat penguapan cairan, termasuk lapisan air mata, sehingga meningkatkan risiko mata kering. Selain itu, udara dari AC dapat mengandung volatile organic compounds (VOC) yang bersifat iritatif. Paparan zat ini berpotensi mengganggu stabilitas lapisan air mata dan memperburuk gejala mata kering.

Penelitian Shah S dan Jani H melaporkan prevalensi mata kering sebesar 58,6% pada pekerja yang lama terpapar AC. Tidak hanya itu, ternyata data juga menunjukan kalau mata kering tidak melulu diasosiasikan dengan kelompok usia lanjut saja. Terutama di kota-kota besar seperti Jabodetabek dan Bandung yang pola hidup warganya sangat lekat dengan layar digital dan ruangan berpendingin udara.

Gambaran tersebut sejalan dengan temuan penelitian Rahmy pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menunjukkan bahwa 70,3% responden mengalami sindrom mata kering atau dry eye syndrome berdasarkan kuesioner Ocular Surface Disease Index (OSDI). Temuan ini menegaskan bahwa mata kering bukan lagi masalah usia lanjut, melainkan juga dialami oleh mahasiswa dan pekerja muda yang sehari-hari beraktivitas di depan layar dan berada di lingkungan ber-AC.

Sementara itu, studi lainnya pada siswa SMA di Jawa Timur ditemukan bahwa 87,2% siswa mengalami mata kering evaporatif. Meski penelitian ini dilakukan di luar Jakarta dan Bandung, pola risikonya relevan dengan kondisi remaja di dua kota besar tersebut, yang memiliki intensitas penggunaan gawai, paparan layar digital, serta ketergantungan pada AC yang serupa, bahkan cenderung lebih tinggi.

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa gaya hidup perkotaan memainkan peran penting dalam meningkatnya kasus mata kering. Aktivitas visual berkepanjangan, minimnya waktu istirahat mata, serta paparan udara kering dari AC menjadi kombinasi yang mempercepat penguapan lapisan air mata, terutama pada usia produktif.

Mata Kering, Masalah Kesehatan yang Sering Tak Disadari
Dry eye syndrome atau sindrom mata kering adalah kondisi multifaktorial yang memengaruhi permukaan mata. Menurut Tear Film and Ocular Surface Society Dry Eye Workshop II (TFOS DEWS II), kondisi ini terjadi akibat hilangnya keseimbangan lapisan air mata, yang menyebabkan ketidakstabilan, hiperosmolaritas, peradangan, serta gangguan neurosensorik.

Gejala mata kering tidak selalu muncul dalam bentuk iritasi berat. Pada banyak kasus, keluhan awal justru ringan dan tidak spesifik, seperti rasa sepet, perih, sensasi mengganjal, atau mata cepat lelah. Karena tidak menimbulkan nyeri hebat, gejala tersebut sering dianggap sepele.

Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan, mata kering dapat berdampak pada produktivitas, kenyamanan visual, hingga kualitas hidup. Studi global menunjukkan prevalensi dry eye syndrome berkisar antara 5,5% hingga 33,7%, dengan faktor risiko utama meliputi usia, jenis kelamin perempuan, paparan lingkungan tertentu, serta kebiasaan visual yang intens.

International Dry Eye Workshop (DEWS) mengklasifikasikan dry eye syndrome menjadi dua jenis utama. Aqueous Deficient Dry Eye (ADDE) terjadi akibat penurunan produksi air mata, umumnya karena disfungsi kelenjar lakrimal. Sementara itu, Evaporative Dry Eye (EDE) disebabkan oleh peningkatan penguapan air mata meskipun produksi air mata masih normal.

Lingkungan dengan kelembapan rendah, seperti ruangan ber-AC, lebih sering memicu EDE. Dalam kondisi ini, air mata menguap terlalu cepat sehingga permukaan mata tidak mendapatkan pelumasan yang optimal. Akibatnya, muncul keluhan sepet, perih, dan mata cepat lelah.

                                                                                                                     Dok. Pribadi

Solusi untuk Mata Kering, Dari Kesadaran hingga Mengubah Kebiasaan
Melihat tingginya prevalensi mata kering di wilayah perkotaan khususnya Jabodetabek dan Bandung, serta masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap kondisi ini, INSTO Dry Eyes hadir dengan pesan edukatif untuk mendorong masyarakat agar lebih peka terhadap gejala mata SEpet, PErih, dan LElah (SePeLe). Gejala-gejala tersebut kerap dianggap ringan dan mudah diabaikan, padahal dalam banyak kasus merupakan tanda awal mata kering yang memerlukan perhatian.

Selama bertahun-tahun, mata kering sering dipersepsikan sebagai keluhan sementara yang akan membaik dengan sendirinya. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat berdampak pada kenyamanan visual, menurunkan konsentrasi, serta memengaruhi produktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai gejala awal mata kering menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kesehatan mata secara menyeluruh.

Sebagai produk tetes mata yang telah dipercaya masyarakat Indonesia selama lebih dari 50 tahun, INSTO menegaskan komitmennya dalam mendukung kesehatan mata melalui pendekatan yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga edukatif dan preventif. Edukasi mengenai pentingnya mengenali gejala mata kering sejak dini diharapkan dapat membantu masyarakat mengambil langkah lebih cepat dan tepat sebelum keluhan berkembang menjadi lebih berat.

Dari sisi solusi, Insto Dry Eyes diformulasikan khusus dengan kandungan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC). Kandungan ini bekerja dengan cara menyerupai lapisan air mata alami, membantu melapisi permukaan mata dan menjaga kestabilan kelembapannya. Dengan kelembapan yang terjaga, permukaan mata dapat terlindungi dari iritasi akibat penguapan air mata yang berlebihan, terutama di lingkungan dengan udara kering.

Penggunaan tetes mata yang tepat dapat membantu meredakan keluhan mata sepet, perih, dan lelah, khususnya pada individu yang banyak beraktivitas di depan layar digital, berada di ruangan ber-AC dalam durasi panjang, atau melakukan aktivitas visual intensif. Dalam konteks gaya hidup modern, solusi semacam ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga kenyamanan mata sehari-hari.

Namun, penanganan mata kering idealnya tidak berhenti pada penggunaan tetes mata saja. Kesadaran untuk memperhatikan lingkungan dan kebiasaan harian, seperti pengaturan suhu ruangan, kelembapan udara, serta waktu istirahat mata, turut berperan dalam menjaga kesehatan mata jangka panjang. Dengan kombinasi antara edukasi, perubahan kebiasaan, dan penggunaan solusi yang tepat, mata kering dapat dikelola dengan lebih baik sehingga tidak mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.

Meski demikian, penanganan mata kering juga harus diimbangi dengan perubahan kebiasaan sehari-hari yang memegang peranan penting dalam mencegah kekambuhan dan memperbaiki kenyamanan mata. Salah satu langkah yang kerap diabaikan adalah penggunaan AC secara lebih bijak. Menjaga suhu ruangan agar tidak terlalu dingin, idealnya di kisaran 24–26 derajat Celsius, dapat membantu memperlambat penguapan lapisan air mata.

Selain pengaturan suhu, upaya menjaga kelembapan udara juga menjadi faktor krusial. Penggunaan humidifier atau cara sederhana seperti meletakkan wadah berisi air di dalam ruangan dapat membantu meningkatkan kelembapan dan mengurangi efek udara kering pada mata. Arah hembusan AC pun perlu diperhatikan agar tidak langsung mengenai wajah dan mata, karena paparan langsung dapat mempercepat penguapan air mata.

Memberikan jeda dari paparan AC dengan membuka jendela untuk sirkulasi udara atau mematikan AC secara berkala juga dapat membantu menjaga keseimbangan kelembapan ruangan. Di sisi lain, membiasakan istirahat mata di sela aktivitas visual, memperbanyak berkedip, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh turut berkontribusi dalam menjaga kesehatan mata.

Mata kering merupakan kondisi yang kerap hadir tanpa disadari. Gejalanya memang terlihat ringan, namun dampaknya nyata terhadap kenyamanan, fokus, dan produktivitas. Di tengah tuntutan hidup modern yang serba cepat, kepekaan terhadap sinyal tubuh, termasuk mata, menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup secara menyeluruh.

Dengan bebas mata SePeLe, masyarakat diingatkan bahwa kesehatan mata bukanlah hal sepele. Dengan mengenali gejala sejak dini, mengelola lingkungan dengan lebih bijak, serta menggunakan solusi yang tepat seperti Insto Dry Eyes, aktivitas sehari-hari dapat tetap dijalani dengan nyaman dan optimal.

Mata yang sehat tidak hanya soal kemampuan melihat dengan jelas, tetapi juga tentang rasa nyaman yang memungkinkan seseorang menjalani hari tanpa gangguan kecil yang melelahkan. Mata kering bukan lagi isu remeh, dan sudah saatnya kondisi ini mendapatkan perhatian yang layak.

 

Kontributor : Ninin Rahayu Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *