Athome.id – Di sebuah sore yang tak terlalu ramai, saya duduk di sebuah kafe yang menghadap ke area terbuka hijau di salah satu kawasan baru Balikpapan. Di luar, beberapa anak muda asyik bekerja dengan laptop mereka di bangku taman. Seorang ibu mendorong kereta bayi, perlahan menyusuri jalur pedestrian yang teduh. Dari kejauhan, terdengar alunan musik akustik dari pengamen jalanan yang diizinkan tampil di sudut ruang publik.
Pemandangan ini mungkin tampak biasa di kota-kota dunia. Namun di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota Indonesia yang kerap mengedepankan beton dan kaca, pemandangan ini adalah sebuah pernyataan. Ini adalah bukti bahwa sebuah kawasan bisa bernapas, bahwa ruang bisa berbicara, dan bahwa pembangunan properti tak melulu tentang nilai jual, melainkan tentang menciptakan ‘jiwa’.

Baca Juga : Balikpapan Tumbuh Pesat, Paradise Indonesia Hadirkan Kawasan Urban Modern
Inilah yang coba dihadirkan oleh Paradise Indonesia di berbagai kota, dari Jakarta hingga Makassar, dan kini menjadi bagian dari denyut nadi pertumbuhan Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Mereka menyebutnya iconic lifestyle destination, tapi lebih dari sekadar label, ini adalah upaya serius untuk menjawab pertanyaan mendasar: seperti apa seharusnya masa depan perkotaan kita?
Menyulam Benang yang Terputus
Urbanisasi yang cepat sering kali membuat hubungan antarmanusia menjadi renggang. Kita hidup berdampingan, namun tak saling mengenal. Ruang-ruang kota, alih-alih mempertemukan, justru memisahkan. Gedung-gedung menjulang, pusat perbelanjaan megah, namun interaksi sosial yang hangat justru sulit ditemukan.
Paradise Indonesia hadir dengan paradigma yang berbeda. Sejak awal, mereka tak hanya memandang kota sebagai pasar, melainkan sebagai sebuah ekosistem. Dalam ekosistem itu, lingkungan alam, dinamika sosial, dan denyut ekonomi adalah tiga unsur yang harus berjalan beriringan, bukan saling mengorbankan.
Baca Juga : Bagaimana Paradise Indonesia Membentuk Destinasi Gaya Hidup Perkotaan?

“Kami membangun ruang yang menghubungkan manusia,” tulis mereka dalam filosofi pengembangannya. Kalimat ini bukan sekadar slogan. Ia terwujud dalam desain ruang terbuka hijau yang tak lagi menjadi sekadar “paru-paru kota” yang pasif, tetapi menjadi ruang sosial yang aktif—tempat bekerja, bertemu, dan berinteraksi. Area komersial tak lagi dirancang sebagai kotak-kotak transaksi, tetapi sebagai ruang yang mengalir, mengundang eksplorasi, dan memfasilitasi pertemuan yang tak terduga.
Generasi urban masa kini tak lagi puas dengan fungsi. Mereka haus akan pengalaman. Bekerja, bersosialisasi, berekreasi, dan berkreasi ingin mereka lakukan dalam satu alur hidup yang dinamis.
Konsep ‘third place’—ruang ketiga di luar rumah dan kantor—menjadi krusial. Di kawasan yang dikembangkan Paradise Indonesia, ruang kolaborasi bukanlah barang mewah, melainkan kebutuhan dasar. Sebuah area di siang hari bisa menjadi ruang kerja bersama yang produktif. Menjelang sore, ia berubah menjadi tempat nongkrong santai. Malam harinya, ia menjelma menjadi pusat hiburan.
Baca Juga : Dari Properti ke Ekosistem Kota: Bagaimana Paradise Indonesia Menciptakan Nilai Jangka Panjang
Pendekatan ini secara halus membentuk gaya hidup. Orang tak lagi sekadar datang untuk membeli, lalu pulang. Mereka datang untuk menjadi bagian dari cerita. Seorang pekerja lepas mungkin memilih kafe di sana karena suasananya mendukung kreativitas. Sebuah komunitas pecinta buku mungkin memilih taman sebagai tempat diskusi rutin mereka. Secara perlahan, kawasan itu tidak lagi hanya menjadi latar belakang kehidupan, tetapi ikut serta dalam membentuk memori dan identitas warganya.

Menanam Pohon di Tengah Beton
Lebih dalam dari sekadar desain, pendekatan Paradise Indonesia adalah sebuah keberanian untuk mengambil jalan yang tidak biasa. Di era ketika keuntungan cepat sering menjadi tujuan utama, mereka justru memilih berinvestasi pada nilai-nilai yang tak kasat mata.
Membangun dengan tetap mempertahankan sirkulasi udara alami, memaksimalkan pencahayaan matahari, dan memastikan ruang hijau bukan sekadar elemen sisa, melainkan inti dari pengalaman. Ini adalah bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya, sekaligus pernyataan bahwa pembangunan bisa menjadi solusi, bukan sumber masalah.
Baca Juga : Paradise Indonesia Menjadikan ESG sebagai DNA Pengembangan Kota
Jalan Panjang Menuju Kota yang Manusiawi
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan IKN yang megah, kehadiran konsep kawasan urban modern ala Paradise Indonesia di Balikpapan seakan menjadi pengingat. Bahwa kota masa depan tak hanya diukur dari gedung pencakar langit dan infrastruktur canggih. Kota yang sesungguhnya hidup adalah kota yang mampu membuat warganya merasa terhubung—dengan alam, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.
Di kawasan itu, saya melihat seorang kakek duduk di bangku taman, tersenyum menikmati sore. Mungkin ia tak tahu menahu tentang konsep ESG (environmental, social, governance) atau place making. Namun ruang yang diciptakan telah memberinya sesuatu yang lebih berharga: sebuah tempat untuk sekadar merasakan kehidupan.
Dan mungkin, di situlah letak kesuksesan sejati sebuah pembangunan kota. Bukan pada berapa banyak yang terjual, tetapi pada berapa banyak jiwa yang tersentuh.