Hunian Vertikal Tetap Diminati di 2019

Foto: Ian/Lokasi: CitraLake Suites.

Memasuki tahun Pilpres 2019, properti menjadi salah satu sektor yang terpengaruh, meskipun sisi negatif yang tidak terlalu besar. Namun, pembeli terkesan menunggu demikian juga dengan pengembang melakukan hal senada. Pembangunan hunian berupa rumah tapak kian hari makin tidak optimal dibangun di Jakarta dan sekitarnya. Harga lahan yang melambung memaksa pembangunan hunian dilakukan ala vertikal, secara ekonomi menjadi lebih efisien karena dalam satu lahan dapat dibangun unit lebih jamak daripada rumah tapak.

Adapun rumah dengan harga sekitar Rp300 juta yang paling banyak diincar konsumen, sayangnya di Jakarta sudah hampir pasti susah ditemukan, begitu juga di kota-kota satelit Ibukota. Pembangunan hunian pada akhirnya ke bisnis hunian jangkung jua seiring kebutuhan tempat tinggal semakin bertambah dengan harga yang masih bersahabat di kantong.

Baca: Industri Properti 4.0 dan Keamanan Digital

Hunian vertikal merupakan sebuah konsep modern yang makin hari banyak dicari para pemburu properti dengan seiring banyaknya pilihan tipe dengan variasi harga. Apartemen bukan hanya sekadar ada karena adanya kebutuhan akan tempat tinggal, melainkan kini telah menjelma menjadi gaya hidup dan menjadi tren yang kian digandrungi para milenial yang bekerja di perkotaan, dan menjadi opsi prioritas karena bersifat simpel dan komplementer, serta karena lokasinya yang prima dekat tempat aktivitas, di tengah kegiatan bisnis, sehingga hidup menjadi lebih efisien dan produktif.

Semakin tingginya peminat hunian vertikal ditanggap cepat oleh pengembang dengan aksi pembangunan pesat apartemen di Jakarta dengan pertumbuhan suplai sebesar 12 persen per tahunnya dan jumlah pasokan yang tersedia pada tahun 2017 diperkirakan mencapai 28 ribu unit. Pengembang optimis dengan target pertumbuhan penjualan lebih dari 15 persen. Sejumlah lokasi yang menjadi titik konsentrasi pembangunan ada di selatan dan barat, dengan masing-masing persentasenya mencapai sekitar 21 persen, didukung adanya pusat bisnis dan komersial premium serta akses tol.

Baca: Mahasiswa Zaman Sekarang Pilih Apartemen

Selama 2 tahun terakhir rerata kenaikan harga properti di Jakarta sebesar 8 persen setiap tahunnya, daerah selatan menjadi yang tertinggi mencapai 12 persen per tahun, menyusul timur dan barat. Hingga kuartal pertama tahun ini ada sekitar 178 ribu unit apartemen di sekitar Jakarta dan diproyeksikan akan ada tambahan 60 ribu unit lagi dalam 3 tahun mendatang. Pasokan di wilayah barat dicari untuk dihuni, sedangkan di selatan untuk investasi.

Bilamana terjadi penjualan 12 ribu unit dalam tahun ini maka menjadi sebuah tanda bahwa pasar properti terutama apartemen sudah masuk dalam siklus yang positif. Adapun di kuartal awal tahun ini baru terjadi kenaikan harga sebanyak 4 persen, masih 10 kali lipat lebih kecil dibanding 3 tahun lampau. Inilah saatnya membeli di harga yang masih murah sebelum pasar properti kembali menanjak. Kenaikan harga apartemen dapat mencapai 4 kali lipat dibandingkan dengan inflasi.

Baca: Punya Rumah di Jakarta Harus Bisa Cicil Rp8 juta Setiap Bulan

Sekitar 75 persen konsumen mencari apartemen disewakan, sedangkan sisanya untuk dijual. Harga sewa apartemen sekitar poros bisnis dibanderol sekira Rp 4 juta per meter persegi, sedangkan di luarnya sekitar Rp 2 juta per meter persegi. Rerata harga apartemen di Jabodetabek kuartal satu tahun ini tumbuh 4 persen atau sebesar Rp 21 juta per meter, lebih tinggi dibandingkan nasional yang hanya sebesar 3 persen. Pertumbuhan tertinggi di Jabodetabek masih ada di Jakarta dengan kenaikan 5 persen, dengan porsi terbesar berada di daerah timur dengan harga yang masih terjangkau yang juga disokong derasnya pembangunan infrastruktur.

Apartemen adalah aset produktif, konsumen lebih bijaksana jika memanfaatkan fasilitas kredit, yang penting cicilan bulanannya tidak memberatkan arus kas bulanan, dan ambil termin yang paling panjang. Setelah serah terima kunci dapat langsung bisa disewakan dengan hasil sewa yang lebih tinggi dibandingkan rumah tapak. Bila sewa rumah tapak hanya sekitar imbal hasil deposito, sedangkan apartemen bisa dua kali lipatnya. Pendapatan rental tersebut dapat menutup biaya kredit bulanan, jadi angsuran dibayar oleh penyewa. Selamat berburu apartemen!

 

David Cornelis

www.davidcornelis.com

 

Tags:
Blog Comments

[…] Baca: Hunian Vertikal Tetap Diminati di 2019 […]

Leave a Comment