Foto: Syafril Hendro/Ines Katamso

Athome.id – Ines Katamso pernah membuat karya bertema Box of Horison, sebuah instalasi 3 dimensi interaktif yang ‘mendorong’ tubuh serta perasaan pengunjung, untuk masuk ke dalam dan mengalaminya. “Mendekatkan dua individu yang berbeda budaya, asal, dan keyakinan dalam ruang dan waktu yang sama untuk membawa hubungan ke topik abstrak yang sama, membangkitkan emosi dan sensitivitas personal yang bermanfaat dan saling memahami,” jelas Ines Katamso kala itu. Karya-karya Ines juga bisa kita nikmati di banyak dinding hotel atau restoran, sebagai elemen interior. Mari berkenalan dengan wanita berambut ikal ini.

Donny (D) : Apa definisi seni menurut Anda ?

Ines(I) : Seni adalah bentuk ekspresi yang paling personal. Menurut saya, Louise Bourgeois menyatakannya dengan sangat baik, “I am not what I am, I am what I do with my hands”.

D: Ceritakan sedikit tentang masa kecil dan bagaimana Anda bisa mendapatkan anugerah (bakat) ini?

I: Sensitivitas saya berhubungan dengan masa kecil. Saya lahir di Yogyakarta dari ayah orang Indonesia dan Ibu berkebangsaan Perancis. Saya tinggal di sana selama 10 tahun sebelum berangkat sekolah ke Perancis. Ayah saya, Mas Moer, bisa dibilang ‘Jim Morrison Jawa’. Anak band ganteng dan ‘berandal’ dengan pakaian kulit warna hitam, naik motor keren, dan memainkan instrumen apa saja yang terdengar rock n roll. Ibu saya, Corinne, adalah seorang seniman tato dan guru Yoga. Dia sangat berbakat menggambar. Dia menjalankan restoran yang berubah menjadi bar yang gila di malam hari, tempat ayah saya manggung bersama band-nya. Terkadang di akhir pekan, pengasuh saya mengajak saya bermain ke rumah keluarganya di kampung yang belum teraliri listrik. Saya membuat boneka kecil dari lumpur atau barbie dari daun-daunan. Di Perancis pun saya tinggal di rumah kakek-nenek di kawasan pedesaan yang tumbuh-tumbuhan mekar sepanjang tahun. Saya rasa lingkungan pedesaan yang dekat dengan alam dan seni, membuat karya-karya saya organik dan puitis.

D : Yogyakarta dan Bali dikenal dengan seni tradisionalnya. Apa perbedaan keduanya menurut Anda?

I : Menurut legenda, kedua tempat ini memiliki latar belakang seni yang sama. Majapahit membawa budaya Jawa ke Bali, terutama tarian, skulptur, lukis, dan wayang. Sekarang, yang menarik adalah bagaimana hasil dari berbagi pengetahuan tersebut. Kita bisa mengamati bahwa orang Bali mengekspresikan diri mereka melalui seni pertunjukan dengan sangat emosional, berirama, dan estetik dibanding para seniman di Jogja yang mengistimewakan bentuk seni dengan lebih halus, bijak dan lembut. Bagi saya, keduanya adalah inspirasi nyata bagi karya-karya saya.

D : Apa warna favorit Anda?

I : Semua warna, jadi mungkin hitam.

D : Warna apa yang terpikir oleh Anda ketika mendengar kata-kata berikut ; INDONESIA, AGAMA, ’14 Mei 1990′ (Tanggal lahir Ines), PINK FLOYD.

IK : INDONESIA – Merah, AGAMA – Dimgrey, ’14 Mei 1990′ – light nude, dan biru cobalt untuk PINK FLOYD. Lihat foto lengkapnya di sini.

 

Naskah: Donny Amrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.