Athome.id – Sebagai negara penghasil sampah plastik lautan kedua sedunia, Indonesia perlu berbenah mencari solusi untuk polusi plastik. Pemerintah telah melakukan upaya mengurangi sampah plastik hingga target 70% melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Penanganan Sampah Plastik Laut Tahun 2018-2025. Selain pemerintah, pihak swasta dan komunitas juga berusaha untuk melakukan penanganan dalam menyelesaikan masalah sampah.

Greeneration Foundation melalui program Citarum Repair yang berkolaborasi dengan Waste4Change dan RiverRecycle mengadakan webinar bertajuk “Ventures to Prevent Plastic Pollution Toward The Ocean” selama dua hari. Webinar ini bertujuan menjadi wadah bagi pemerintah, pihak swasta, peneliti, komunitas, dan pihak lainnya untuk menjelajahi lebih dalam tentang masalah sampah di laut Indonesia.

Webinar dibuka oleh Resmiani, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat sebagai perwakilan dari Gubernur Jawa Barat, yang menyatakan bahwa Sungai Citarum sebagai salah satu wilayah yang memiliki populasi penduduk yang banyak membawa dampak khususnya dalam persampahan. “Program kami, Citarum Harum, diharapkan dapat selesai di 2023. Implementasi program ini membutuhkan satu hal penting, yakni kolaborasi pentahelix yang melibatkan partisipasi dari pemerintah, komunitas, dan juga organisasi agar tercapainya tujuan bersama yang diinginkan,” pungkasnya.

Selain pemerintah, hadir pula dari sektor privat, Triyono Prijosoesilo selaku Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia. Triyono menyatakan bahwa, “Kami di Coca-Cola memahami bahwa pengelolaan kemasan plastik pasca konsumsi menjadi isu yang sangat penting. Kami tidak ingin kemasan pasca konsumsi kami, ataupun kemasan plastik pasca konsumsi lainnya menjadi sampah yang tidak dikelola dan mencemari lingkungan. Tahun 2018, Coca-Cola hadir dengan visi World Without Waste atau visi dunia tanpa sampah. Sejalan dengan visi World Without Waste, Coca-Cola ingin menjadi bagian daripada solusi masalah sampah. Kami ingin menggunakan material daur ulang dalam kemasan kami, dengan target rata-rata 50% di tahun 2030. Dan untuk memenuhi visi tersebut memerlukan kolaborasi dengan banyak pihak. Maka dari itu, kegiatan webinar ini juga bagian dari upaya tambahan untuk membangun kesadaran, kepedulian, dan kebiasaan, agar Indonesia lebih baik dalam mengelola sampah plastik.”

Melanjutkan dari sesi keynote speech dari Resmiani dan Triyono Prijosoesilo adalah sesi best practice sharing yang dilakukan oleh representasi tiga institusi pegiat isu sungai, yakni Bastari dari BBWS Citarum, Wisya Aulia Prayudi dari Citarum Repair, dan Gary Bencheghib dari Sungai Watch. Bastari mengungkapkan bahwa Sungai Citarum memberikan daerah aliran sungai bagi 12 kabupaten dan kota, dan 12% wilayah Sungai Citarum merupakan lahan kritis akibat timbulan sampah yang berasal dari desa dan wilayah metro Bandung. Padahal, Sungai Citarum dapat menjadi sumber baku masyarakat, aliran listrik, dan sebagainya.

Masalah di Sungai Citarum ini juga disaksikan langsung oleh Wisya Aulia Prayudi, Program Manager Citarum Repair. Karena Sungai Citarum sebenarnya adalah sungai yang memiliki banyak potensi dalam kebutuhan masyarakat, maka pendekatan berbasis masyarakat juga penting untuk mengatasi sampah sungai Citarum. Oleh karena itu, Citarum Repair yang diimplementasikan selama 2020 hingga 2023 mendatang, menjalankan program dengan tiga pendekatan, yakni implementasi teknologi, manajemen persampahan, dan partisipasi masyarakat.

Di luar Sungai Citarum, banyak juga sungai di Indonesia yang memiliki masalah yang sama dengan timbulan sampah. Gary Bencheghib dari Sungai Watch mengungkapkan, sejak 2017, beberapa sungai juga mulai menumpuk sampahnya. Mayoritas sampah kemungkinan berasal dari sampah-sampah supermarket dan merupakan sampah yang sulit untuk dikelola, seperti sampah-sampah sachet yang terus menumpuk di hulu sungai.

Mengatasi masalah sampah membutuhkan banyak pendekatan dan melibatkan multisektor. Melihat fenomena sampah di sungai-sungai Indonesia dan dunia, Molly Morse, peneliti Benioff Ocean Initiatives, menyimpulkan, “Riset dan pemberdayaan, serta manajemen dan kolaborasi menjadi hal penting dalam menjaga kondisi lingkungan. Teknologi bisa membantu untuk menyelesaikan masalah sampah yang tetap disesuaikan dengan keadaan yang seharusnya. Kolaborasi bisa membuat kita mendapatkan solusi yang lebih cepat.”

Webinar Citarum Repair 2021 berlangsung selama dua hari, 23-24 November 2021. Pada hari pertamanya, webinar dihadiri oleh 277 partisipan. Webinar Citarum Repair 2021 dilaksanakan oleh Greeneration Foundation, Waste4Change dan RiverRecycle, yang didukung oleh Amazon Web Services, Coca-Cola Foundation Indonesia, P4G, Siklus, dan Indonesia Circular Economy Forum. Webinar ini juga didukung oleh 45 Community Partner.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.